Mematahkan 5 Mitos Populer di Dunia Lari
Berlari memang tampak mudah. Tak banyak perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan olahraga ini. Cukup kenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, dan Anda sudah bisa berlari.
Namun, berlari dengan benar tidaklah sesederhana itu. Ada beragam pantangan dan saran yang harus dipatuhi agar pelari bisa mendapatkan hasil optimal. Soal nutrisi, misalnya. Apa saja, sih, makanan yang boleh dikonsumsi?
Anda bisa menemukan pantangan dan saran ini di banyak tempat, mulai dari artikel di internet sampai ucapan teman. Akan tetapi, percayalah bahwa tidak semua yang Anda dengar itu benar.
Nah, di sini, RunStyle mencoba untuk membedah mitos-mitos yang berkaitan dengan lari. Ada lima hal yang dipercaya oleh banyak pelari tetapi sebenarnya kurang tepat. Apa saja?
Yuk, simak.
1. Peregangan Itu Tidak Penting
Mengapa ini menjadi mitos? Bukankah memang sudah semestinya peregangan dilakukan sebelum dan sesudah berlari?
Well, betul. Namun, ada riset dari dari US National Library of Medicine yang menyebutkan bahwa peregangan tidak mengurangi risiko cedera sehingga ini membuat beberapa pelari jadi menyepelekan peregangan.
Padahal, ya, sebenarnya tidak bisa begitu. Peregangan sebelum berlari akan membuat tubuh lebih fleksibel sehingga Anda lebih mudah bergerak. Dengan begitu, Anda bisa menghemat energi dan berlari lebih jauh.
Kemudian, peregangan sesudah lari akan membuat otot-otot Anda rileks. Jika sudah begitu, tubuh akan pulih lebih cepat sehingga Anda bisa lebih sering berlari.
2. Banyak-banyak Makan Karbohidrat
Waktu belajar IPA di Sekolah Dasar, sering disebutkan bahwa karbohidrat adalah sumber energi. Maka, menjadi masuk akal jika banyak yang menganggap mengonsumsi banyak karbohidrat sebelum berlari bakal membuat daya tahan terjaga.
Itu tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Menurut Runtastic, banyak atlet lari yang memilih untuk tidak banyak-banyak mengonsumsi karbohidrat. Supaya tak kehabisan energi, mereka lebih suka mengonsumsi sports gels.
Namun, pada akhirnya, semua terserah Anda. Kalau Anda merasa lebih kuat setelah mengonsumsi karbohidrat, itu juga bukan masalah karena kebutuhan setiap orang memang berbeda-beda.
3. Lebih Baik Nyeker?
Berlari tanpa alas kaki alias nyeker menjadi populer salah satunya berkat buku Born to Run karya Christopher McDougall. Katanya, berlari tanpa alas kaki bisa meningkatkan kekuatan dan keseimbangan seorang pelari.
Namun, ayolah. Berlari tanpa alas kaki berarti berlari tanpa perlindungan. Ada risiko-risiko yang lahir dari sini, salah satunya tertusuk benda tajam. Niatnya ingin sehat, eh, malah jadi celaka.
Lagipula, zaman sekarang ini teknologi sepatu lari sudah maju. Sudah banyak sepatu yang didesain sedemikian rupa sehingga tidak memberatkan pelari dan bisa membuat mereka merasakan sensasi berlari tanpa alas kaki.
4. Kalau Sudah Berlari, Untuk Apa Melatih Kekuatan?
Berlari memang menyehatkan. Dengan berlari, Anda bisa memperkuat sistem peredaran darah sehingga tubuh menjadi bugar dan selalu siap untuk melakukan aktivitas apa pun.
Akan tetapi, lari saja tidak cukup. Berlari hanyalah fondasi sehingga jika ingin tubuh yang lebih kuat Anda harus tetap melakukan latihan terpisah. Tidak ada salahnya, kok, mengombinasikan dua latihan ini.
5. Makin Jauh, Makin Bagus
Jika Anda melihat ada teman yang bisa berlari lebih jauh dibanding Anda, jangan berkecil hati. Sepintas, bisa berlari lebih jauh tampak lebih baik. Namun, tolong jangan memaksakan diri.
Setiap orang punya kemampuan dan kapasitas sendiri-sendiri. Apa yang diraih teman Anda dalam sebulan belum tentu bisa Anda lakukan dan begitu juga sebaliknya.
Anda perlu ingat bahwa berlari seharusnya menyehatkan. Untuk itu, semuanya harus dilakukan dengan seimbang, termasuk beristirahat. Lagipula, berlari jarak pendek juga penting untuk meningkatkan performa Anda dalam berlari.
***
Pada intinya, lari bukan satu-satunya cara untuk membuat tubuh jadi lebih sehat. Ada hal-hal yang tak boleh dilupakan seperti istirahat, makan, bahkan latihan lain. Dengan mengombinasikan semua ini dengan seimbang, barulah Anda bisa mendapatkan tubuh yang betul-betul sehat.
*Sumber: Runtastic; Science Direct; US National Library of Medicine
Sumber :
https://kumparan.com/kumparansport/mematahkan-5-mitos-populer-di-dunia-lari-1sRe54Pt5mS
Friday, February 21, 2020
Maraton vs Sprint
Berlari seperti Lalu Zohri: Mungkin Enggak, Sih?
"Hidup ini seperti maraton, bukan sprint."Anda barangkali sangat familiar dengan metafora itu dan bahkan sudah bosan mendengarnya. Nyatanya, kata-kata tersebut memang sudah terlalu sering digunakan seperti halnya Wilhelm Scream di film-film aksi.
Namun, ketika hendak berbicara soal dua hal yang bertolak belakang, sulit untuk mencari padanan dari maraton dan sprint. Dua nomor lari itu memang sangat, sangat berbeda.
Suryo Agung Wibowo, mantan sprinter nasional yang pernah menjadi manusia tercepat Asia Tenggara, menjelaskan perbedaan antara maraton dan sprint kepada RunStyle dengan gamblang.
"Oh, tentu sangat berbeda," katanya. "Sprint itu soal kecepatan, sedangkan maraton adalah soal ketahanan atau endurance. Di situ semuanya berbeda, termasuk apa-apa saja yang harus dipersiapkan."
Gampangnya, Anda bisa melihat perbedaan itu dengan membandingkan postur Lalu Muhammad Zohri dan Agus Prayogo. Zohri yang merupakan seorang sprinter punya tubuh lebih kekar dibanding Agus sang pelari jarak jauh.
Perbedaan itu bisa menonjol karena Zohri dan Agus memang ditempa dengan cara berbeda. Untuk seorang sprinter, kata Suryo, latihan lari saja tidak akan cukup.
Pelari cepat membutuhkan latihan-latihan lain, mulai dari kekuatan sampai kelenturan. Ini semua diperlukan agar otot-otot yang diperlukan untuk memberi dorongan bisa bekerja secara optimal.
"Sebaliknya, kalau untuk maraton, utamanya bagi pemula, yang paling penting adalah membiasakan diri. Sedikit demi sedikit dilatih supaya bisa lari lebih jauh. Tapi, jangan juga memaksakan diri. Itu malah bahaya nanti," jelas Suryo.
Indonesia punya banyak sprinter ternama. Sebelum Suryo dan Zohri, ada nama Mardi Lestari dan Purnomo Muhammad Yudhi. Di era sebelumnya lagi, sosok Mohammad Sarengat pernah mengharumkan nama bangsa.
Namun, tidak semua orang bisa menjadi seperti mereka. Tidak semua orang bisa menjadi juara dunia lari 100 meter junior sekaligus manusia tercepat Asia Tenggara seperti Zohri.
Sebab, salah satu unsur terpenting dalam sprint adalah genetika. Ada faktor bawaan yang membuat seseorang bisa jadi sprinter yang lebih baik.
"Ada yang namanya serabut otot putih," kata Suryo. "Semakin banyak serabut otot putihnya, semakin cepat larinya, dan itu sifatnya genetis."
"Tapi, faktor lingkungan juga berpengaruh. Kenapa Amerika (Serikat) dan Jamaika punya banyak sprinter bagus, sementara pelari maraton kebanyakan berasal dari Kenya dan Etiopia? Itu karena faktor lingkungan."
"Di Kenya sama Etiopia, misalnya, daerahnya kering. Orang harus sering berjalan dan berlari hanya untuk mencari air. Itu kenapa ketahanan mereka lebih bagus," papar pria 36 tahun tersebut.
Penjelasan Suryo itu semakin menegaskan perbedaan antara sprint dan maraton. Akan tetapi, apakah sama sekali tidak ada kesamaan antara keduanya? Apa saja metode sprint yang bisa diterapkan oleh para pelari awam?
Berdasarkan Kalender Lari, setidaknya ada 47 event lari yang bakal digelar pada 2020 nanti di Indonesia. Dari semua event itu, hanya satu yang menyertakan sprint dalam agendanya, yaitu Indonesia Women's Run, Maret mendatang.
Dengan kata lain, lari jarak jauh masih jadi primadona. Memang tidak semuanya maraton. Kebanyakan adalah lari dengan jarak 10km atau kurang. Namun, tetap saja, lari 5k sekalipun sudah masuk kategori lari jarak jauh.
Sebenarnya, tidak banyak aspek sprint yang bisa diterapkan di lari jarak jauh. Dari gear saja sudah berbeda. Untuk sprint, sepatu yang dikenakan, misalnya, harus dilengkapi dengan spikes atau paku-paku kecil.
Sudah begitu, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, persiapan yang harus dilakukan pun tidak sama. Pelari jarak jauh bisa saja melatih kekuatan tubuhnya, tetapi itu bukan kewajiban.
Walau begitu, ada yang sama sekali tidak bisa diganggu gugat, yaitu teknik berlari. Ini mutlak. Apa pun larinya, tekniknya harus benar, meskipun teknik berlari sprint dan maraton juga tidak sama.
"Teknik harus benar, ya. Ayunan kaki, gerakan tangan, itu harus diperhatikan semua pelari. Buat yang pemula, paling penting untuk belajar bagaimana lari yang benar dulu," kata Suryo.
Selain teknik, makanan juga harus diperhatikan. Suryo yang kini bekerja sebagai pegawai Kementerian Pemuda dan Olahraga itu menekankan bahwa makanan yang dikonsumsi harus mencukupi kebutuhan gizi.
"Sebenarnya yang penting empat sehat lima sempurna. Karbohidrat, protein, sayur, dan buah itu harus masuk. Selain itu, kalau bisa, jangan makan gorengan, makanan bersantan, dan mi instan," tuturnya.
Semua itu bermuara pada satu hal paling penting: konsistensi. Pelari harus telaten, kata Suryo. Sedari awal, tujuan sudah harus ditetapkan dan pelari harus setia dengan tujuan tersebut.
Di sprint, tujuannya adalah jadi yang tercepat. Untuk maraton dan lari jarak jauh lainnya, tujuannya adalah bagaimana bertahan lama. Pada prinsipnya, pelari harus memahami itu dan mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh.
"Kalau punya pelatih, samakan tujuan dengan pelatih. Susun program latihan yang sesuai dan patuhi itu. Kalau itu semua sudah dilakukan pasti hasilnya juga bagus," kata Suryo.
Nah, meskipun sifatnya amat berbeda, sprint dan maraton atau lari jarak jauh lain sebetulnya tetap memiliki kesamaan. Latihan teknik, asupan nutrisi, dan keseriusan adalah sesuatu yang wajib diperhatikan.
Apakah itu semua akan membuat Anda bisa berlari seperti Zohri? Tentu tidak. Akan tetapi, cara-cara yang disampaikan Suryo itu dijamin membuat aktivitas berlari Anda jadi lebih optimal.
Seperti halnya Zohri, Suryo juga dilatih oleh Eni Nuraini yang pada awal tahun ini dinobatkan jadi Pelatih Atletik Terbaik Se-Asia. Suryo pun pernah merasakan gelar manusia tercepat Asia Tenggara sebelum Zohri merebutnya. Masak, sih, enggak percaya sama omongan seorang juara?
Sumber :
https://kumparan.com/kumparansport/berlari-seperti-lalu-zohri-mungkin-enggak-sih-1sRcG0jSANs
"Hidup ini seperti maraton, bukan sprint."Anda barangkali sangat familiar dengan metafora itu dan bahkan sudah bosan mendengarnya. Nyatanya, kata-kata tersebut memang sudah terlalu sering digunakan seperti halnya Wilhelm Scream di film-film aksi.
Namun, ketika hendak berbicara soal dua hal yang bertolak belakang, sulit untuk mencari padanan dari maraton dan sprint. Dua nomor lari itu memang sangat, sangat berbeda.
Suryo Agung Wibowo, mantan sprinter nasional yang pernah menjadi manusia tercepat Asia Tenggara, menjelaskan perbedaan antara maraton dan sprint kepada RunStyle dengan gamblang.
"Oh, tentu sangat berbeda," katanya. "Sprint itu soal kecepatan, sedangkan maraton adalah soal ketahanan atau endurance. Di situ semuanya berbeda, termasuk apa-apa saja yang harus dipersiapkan."
Gampangnya, Anda bisa melihat perbedaan itu dengan membandingkan postur Lalu Muhammad Zohri dan Agus Prayogo. Zohri yang merupakan seorang sprinter punya tubuh lebih kekar dibanding Agus sang pelari jarak jauh.
Perbedaan itu bisa menonjol karena Zohri dan Agus memang ditempa dengan cara berbeda. Untuk seorang sprinter, kata Suryo, latihan lari saja tidak akan cukup.
Pelari cepat membutuhkan latihan-latihan lain, mulai dari kekuatan sampai kelenturan. Ini semua diperlukan agar otot-otot yang diperlukan untuk memberi dorongan bisa bekerja secara optimal.
"Sebaliknya, kalau untuk maraton, utamanya bagi pemula, yang paling penting adalah membiasakan diri. Sedikit demi sedikit dilatih supaya bisa lari lebih jauh. Tapi, jangan juga memaksakan diri. Itu malah bahaya nanti," jelas Suryo.
Indonesia punya banyak sprinter ternama. Sebelum Suryo dan Zohri, ada nama Mardi Lestari dan Purnomo Muhammad Yudhi. Di era sebelumnya lagi, sosok Mohammad Sarengat pernah mengharumkan nama bangsa.
Namun, tidak semua orang bisa menjadi seperti mereka. Tidak semua orang bisa menjadi juara dunia lari 100 meter junior sekaligus manusia tercepat Asia Tenggara seperti Zohri.
Sebab, salah satu unsur terpenting dalam sprint adalah genetika. Ada faktor bawaan yang membuat seseorang bisa jadi sprinter yang lebih baik.
"Ada yang namanya serabut otot putih," kata Suryo. "Semakin banyak serabut otot putihnya, semakin cepat larinya, dan itu sifatnya genetis."
"Tapi, faktor lingkungan juga berpengaruh. Kenapa Amerika (Serikat) dan Jamaika punya banyak sprinter bagus, sementara pelari maraton kebanyakan berasal dari Kenya dan Etiopia? Itu karena faktor lingkungan."
"Di Kenya sama Etiopia, misalnya, daerahnya kering. Orang harus sering berjalan dan berlari hanya untuk mencari air. Itu kenapa ketahanan mereka lebih bagus," papar pria 36 tahun tersebut.
Penjelasan Suryo itu semakin menegaskan perbedaan antara sprint dan maraton. Akan tetapi, apakah sama sekali tidak ada kesamaan antara keduanya? Apa saja metode sprint yang bisa diterapkan oleh para pelari awam?
Berdasarkan Kalender Lari, setidaknya ada 47 event lari yang bakal digelar pada 2020 nanti di Indonesia. Dari semua event itu, hanya satu yang menyertakan sprint dalam agendanya, yaitu Indonesia Women's Run, Maret mendatang.
Dengan kata lain, lari jarak jauh masih jadi primadona. Memang tidak semuanya maraton. Kebanyakan adalah lari dengan jarak 10km atau kurang. Namun, tetap saja, lari 5k sekalipun sudah masuk kategori lari jarak jauh.
Sebenarnya, tidak banyak aspek sprint yang bisa diterapkan di lari jarak jauh. Dari gear saja sudah berbeda. Untuk sprint, sepatu yang dikenakan, misalnya, harus dilengkapi dengan spikes atau paku-paku kecil.
Sudah begitu, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, persiapan yang harus dilakukan pun tidak sama. Pelari jarak jauh bisa saja melatih kekuatan tubuhnya, tetapi itu bukan kewajiban.
Walau begitu, ada yang sama sekali tidak bisa diganggu gugat, yaitu teknik berlari. Ini mutlak. Apa pun larinya, tekniknya harus benar, meskipun teknik berlari sprint dan maraton juga tidak sama.
"Teknik harus benar, ya. Ayunan kaki, gerakan tangan, itu harus diperhatikan semua pelari. Buat yang pemula, paling penting untuk belajar bagaimana lari yang benar dulu," kata Suryo.
Selain teknik, makanan juga harus diperhatikan. Suryo yang kini bekerja sebagai pegawai Kementerian Pemuda dan Olahraga itu menekankan bahwa makanan yang dikonsumsi harus mencukupi kebutuhan gizi.
"Sebenarnya yang penting empat sehat lima sempurna. Karbohidrat, protein, sayur, dan buah itu harus masuk. Selain itu, kalau bisa, jangan makan gorengan, makanan bersantan, dan mi instan," tuturnya.
Semua itu bermuara pada satu hal paling penting: konsistensi. Pelari harus telaten, kata Suryo. Sedari awal, tujuan sudah harus ditetapkan dan pelari harus setia dengan tujuan tersebut.
Di sprint, tujuannya adalah jadi yang tercepat. Untuk maraton dan lari jarak jauh lainnya, tujuannya adalah bagaimana bertahan lama. Pada prinsipnya, pelari harus memahami itu dan mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh.
"Kalau punya pelatih, samakan tujuan dengan pelatih. Susun program latihan yang sesuai dan patuhi itu. Kalau itu semua sudah dilakukan pasti hasilnya juga bagus," kata Suryo.
Nah, meskipun sifatnya amat berbeda, sprint dan maraton atau lari jarak jauh lain sebetulnya tetap memiliki kesamaan. Latihan teknik, asupan nutrisi, dan keseriusan adalah sesuatu yang wajib diperhatikan.
Apakah itu semua akan membuat Anda bisa berlari seperti Zohri? Tentu tidak. Akan tetapi, cara-cara yang disampaikan Suryo itu dijamin membuat aktivitas berlari Anda jadi lebih optimal.
Seperti halnya Zohri, Suryo juga dilatih oleh Eni Nuraini yang pada awal tahun ini dinobatkan jadi Pelatih Atletik Terbaik Se-Asia. Suryo pun pernah merasakan gelar manusia tercepat Asia Tenggara sebelum Zohri merebutnya. Masak, sih, enggak percaya sama omongan seorang juara?
Sumber :
https://kumparan.com/kumparansport/berlari-seperti-lalu-zohri-mungkin-enggak-sih-1sRcG0jSANs
Thursday, February 20, 2020
6 Abbott World Marathon Majors
Tokyo: The First Sunday in March
Registration begins, and continues through August. If you’re speedy, you might be able to take advantage of Tokyo’s “semi-elite entry,” AKA their Run As One program for international runners. For men, that means running a marathon between 2:21:01 and 2:45:00 and for women, that means 2:52:01 to 3:30:00 (there are no age groups, but faster runners get preference). Read more about the Run As One program here.
Boston: The Third Monday in April
Registration opens in September, with those who qualify by 20 minutes or more getting first dibs. From there, registration rolls out to runners who qualified by ten minutes or more, then five minutes or more. Sadly, this means that scoring that beloved BQ doesn’t necessarily guarantee entry into the race. Just over 7,300 qualifiers didn’t earn entry last year due to space constraints. If that’s your fate, you’ll need to go through a charity or tour group. For more, check out the 2020 Boston Marathon Registration FAQs.
London: The Last Sunday in April
“International runners can’t qualify with fast times, so it’s all about the lottery for Americans,” Adams says. Apply between April and May, then find out if you’re one of the lucky few in October. Adams says your chances of winning the London lottery is in the single-digits. (More on that in a bit.)
Berlin: The Last Sunday in September
Registration begins mid-October and goes through early November. If you qualified, congrats! You’re guaranteed a bib. If you didn’t, you still have a shot at the lottery, which is less competitive than London but still increasingly popular given the historic, PR-friendly course.
Chicago: The Sunday of Columbus Day Weekend
Registration details aren’t announced until race weekend, but in years past, you’d apply for the lottery starting in October, then find out in December. You’re guaranteed entry if you already ran the race five or more times over the last decade, and if you finished the Bank of America Shamrock Shuffle 8K four or more times since 2000 and signed up for next year’s Shamrock Shuffle, which takes place March 22nd this year.
New York City: The First Sunday in November
If you didn't qualify, you can apply to the randomized drawing that usually begins mid-January and goes through mid-February. If you're in the New York City area, consider the 9+1 program: Become a New York Road Runners (NYRR) member starting in January the year before the marathon, then run nine official NYRR races and volunteer once over the course of the year. And if you finished 15 or more New York City Marathons, you now have entry for life (but, FYI, older races are grandfathered into the Abbotts medal requirement).
Sumber :
https://www.runnersworld.com/races-places/a28307813/world-marathon-majors-faq/
Sumber foto :
https://www.justrunlah.com/2018/01/23/abbott-world-marathon-majors-6-races-every-runner-ought-to-check-out/
Sunday, February 16, 2020
Easy Run, Long Run, Tempo Run
APA BEDANYA?
By. Planet Sports RUN
Ada banyak jenis latihan lari. Yuk ketahui bedanya.
Meski lari terkesan sebagai olahraga yang sekadar mengangkat kaki dan melayang di udara, faktanya ada berbagai jenis tipe latihannya. Pelari pasti sudah tahu ada yang namanya easy run, long run, tempo run, atau interval run.
Tapi sudahkah paham maksudnya?
Andri Yanto (@andri_instagram), coach dan pemerhati olahraga lari, menjelaskan secara umum dengan membaginya berdasarkan tes bicara (yaitu kemampuan pelari berbicara selama lari) dan panduan pace.
Easy Run (ER)
Lari dalam pace yang nyaman dan santai. Secara umum juga sering disebut jogging.
Tes bicara (talk test): Bisa bicara secara leluasa.
Panduan pace: Satu sampai dengan dua menit dari personal best (PB) 5K. Jadi kalau PB 5K kita 30 menit atau sama dengan pace rata-rata 6.00, maka pace ER kita antara pace 7.00 sd. 8.00.
Tempo Run
Berlari di ambang batas antara aerobik dan anaerobik. Sebelum memulainya lakukan pemanasan yang cukup.
Tes bicara: Saat berlari masih bisa bicara per kalimat.
Panduan pace: Biasa disebut comfortably hard tapi secara umum pace tempo run berada antara 10-20 detik lebih lambat dari pace PB 10K. Bila kita menamatkan 10K dalam waktu 50 menit (pace rata-rata 5.00) maka pace tempo run berada di antara 5.10 sd. 5.20.
Interval Run
Metode latihan yang menyelang-selingkan kecepatan dan diselingi istirahat di antaranya. Latihan ini bermanfaat membangun kecepatan.
Tes bicara: Saat berlari hanya bisa bicara per kata.
Panduan pace: Antara kecepatan PB 5K sd. 10K.
Fartlek
Berasal dari bahasa Swedia yang artinya speed play atau bermain kecepatan. Fartlek secara umum merupakan salah satu bentuk latihan yang mengombinasikan berbagai kecepatan atau jenis lari seperti cepat, sedang, dan lambat. Ini adalah cara yang kreatif untuk meningkatkan kecepatan dan melatih daya tahan.
Tes bicara: Saat berlari hanya bisa bicara secara terbatas.
Panduan pace: Sangat variatif, antara kecepatan PB 5K, 10K, half marathon, marathon pace, maupun easy run.
Long Run
Ini adalah jarak lari terjauh dalam seminggu. Lakukan long run dengan pace sedikit di atas easy run. Long run bermanfaat membangun daya tahan (endurance). Biasanya pelari kerap melakukan long run pada akhir pekan.
Tes bicara: Bisa bicara leluasa namun tingkat kesulitan di atas easy run.
Panduan pace: Secara umum lakukan long run dengan conversational pace atau biasa disebut pace ngobrol. Karena bagi pelari rekreasi (recreational runner) long run itu sejatinya bukan soal seberapa cepat menyelesaikan latihan. Lakukan long run secara nonstop agar tujuannya tercapai. Jadi bila Anda berniat long run 20K, maka dari mulai sampai selesai 20K usahakan terus berlari tanpa berhenti.
Sumber :
https://www.planetsports.asia/blog/post/easy-run-long-run-tempo-run-apa-bedanya
Sumber foto :
https://www.strava.com/clubs/492219/posts/4267118?_branch_match_id=619539919667095868
By. Planet Sports RUN
Ada banyak jenis latihan lari. Yuk ketahui bedanya.
Meski lari terkesan sebagai olahraga yang sekadar mengangkat kaki dan melayang di udara, faktanya ada berbagai jenis tipe latihannya. Pelari pasti sudah tahu ada yang namanya easy run, long run, tempo run, atau interval run.
Tapi sudahkah paham maksudnya?
Andri Yanto (@andri_instagram), coach dan pemerhati olahraga lari, menjelaskan secara umum dengan membaginya berdasarkan tes bicara (yaitu kemampuan pelari berbicara selama lari) dan panduan pace.
Easy Run (ER)
Lari dalam pace yang nyaman dan santai. Secara umum juga sering disebut jogging.
Tes bicara (talk test): Bisa bicara secara leluasa.
Panduan pace: Satu sampai dengan dua menit dari personal best (PB) 5K. Jadi kalau PB 5K kita 30 menit atau sama dengan pace rata-rata 6.00, maka pace ER kita antara pace 7.00 sd. 8.00.
Tempo Run
Berlari di ambang batas antara aerobik dan anaerobik. Sebelum memulainya lakukan pemanasan yang cukup.
Tes bicara: Saat berlari masih bisa bicara per kalimat.
Panduan pace: Biasa disebut comfortably hard tapi secara umum pace tempo run berada antara 10-20 detik lebih lambat dari pace PB 10K. Bila kita menamatkan 10K dalam waktu 50 menit (pace rata-rata 5.00) maka pace tempo run berada di antara 5.10 sd. 5.20.
Interval Run
Metode latihan yang menyelang-selingkan kecepatan dan diselingi istirahat di antaranya. Latihan ini bermanfaat membangun kecepatan.
Tes bicara: Saat berlari hanya bisa bicara per kata.
Panduan pace: Antara kecepatan PB 5K sd. 10K.
Fartlek
Berasal dari bahasa Swedia yang artinya speed play atau bermain kecepatan. Fartlek secara umum merupakan salah satu bentuk latihan yang mengombinasikan berbagai kecepatan atau jenis lari seperti cepat, sedang, dan lambat. Ini adalah cara yang kreatif untuk meningkatkan kecepatan dan melatih daya tahan.
Tes bicara: Saat berlari hanya bisa bicara secara terbatas.
Panduan pace: Sangat variatif, antara kecepatan PB 5K, 10K, half marathon, marathon pace, maupun easy run.
Long Run
Ini adalah jarak lari terjauh dalam seminggu. Lakukan long run dengan pace sedikit di atas easy run. Long run bermanfaat membangun daya tahan (endurance). Biasanya pelari kerap melakukan long run pada akhir pekan.
Tes bicara: Bisa bicara leluasa namun tingkat kesulitan di atas easy run.
Panduan pace: Secara umum lakukan long run dengan conversational pace atau biasa disebut pace ngobrol. Karena bagi pelari rekreasi (recreational runner) long run itu sejatinya bukan soal seberapa cepat menyelesaikan latihan. Lakukan long run secara nonstop agar tujuannya tercapai. Jadi bila Anda berniat long run 20K, maka dari mulai sampai selesai 20K usahakan terus berlari tanpa berhenti.
Sumber :
https://www.planetsports.asia/blog/post/easy-run-long-run-tempo-run-apa-bedanya
Sumber foto :
https://www.strava.com/clubs/492219/posts/4267118?_branch_match_id=619539919667095868
Wednesday, February 5, 2020
Nike Vaporfly
Nike Vaporfly sukses bujuk jutaan pelari amatir, ini kisah kontroversinya
Jumat, 24 Januari 2020 | 16:56 WIB
KONTAN.CO.ID - Holly Grundon, pelari amatir Inggris, sangat senang bisa memecahkan rekor kecepatan pribadi yang telah lama dia pegang. Perempuan 36 tahun ini bisa melahap half marathon alias 21,1 km dalam waktu kurang dari 1 jam 30 menit.
Tapi, raihan tersebut tak lepas dari keputusan Grundon beralih ke sepatu Nike Vaporfly. Catatan waktu pribadi terbaiknya (PB) itu membuat dia bertanya-tanya, apakah dia menipu diri sendiri, atau mengotori olahraga yang selalu ia cintai karena kemurniannya.
"Ketika Anda berlari, Anda hanya ingin berlari untuk diri sendiri," kata Grundon kepada Reuters. "Hanya kamu yang melawan jalan dan waktu yang ada dalam pikiranmu untuk dikalahkan," ujar dia yang juga menekuni trialton ini.
"Jadi, berinvestasi dalam sepasang sepatu yang dimaksudkan untuk membuatmu lebih cepat berlari secara otomatis, ya, ada pertimbangan etis, dan apakah itu bisa dikatakan curang, ya, saya rasa," ucap Grundon.
Grundon mengungkapkan, bertahun-tahun dia berusaja mengejar waktu half marathon dengan target 1 jam 30 menit, tapi tidak pernah berhasil. Hanya, "Beringsut lebih dekat dan lebih dekat ke waktu itu," ungkapnya.
Saat mengikuti acara lari half marathon di Madrid, Spanyol, Grundon pun memutuskan membeli Nike Vaporfly, setelah melihat pelari lainnya memakainya dan membaca ulasan tentang sepatu itu.
"Saya merasa sangat aneh saat memakainya, tetapi begitu berlari dan berlari, saya benar-benar merasa cepat," kata Grundon. "Saya berhasil mencapai target saya, bahkan di bawah waktu yang saya inginkan".
"Tetapi setelah acara lari, itu (Vaporfly) membuat saya bertanya-tanya, apakah saya harus memakainya. Karena saya pikir, saya mungkin bisa mengalahkan target saya hanya dengan sepatu yanng biasa saya pakai," ujar dia.
Studi ilmiah serta bukti anekdotal menunjukkan, sepatu lari Nike Vaporfly yang dilengkapi dengan sol busa super-kenyal yang membungkus pelat serat karbon, bisa meningkatkan efisiensi berlari antara 4% hingga 6%.
Fakta tersebut sukses membujuk jutaan pelari amatir termasuk Grundon untuk menyingkirkan sepatu favorit lama mereka dan mencoba Nike Vaporfly.
Sepatu itu juga menimbulkan pertanyaan di World Athletics, badan olahraga lari dunia, yang tampaknya akan meninjau peraturannya untuk lomba tingkat elit mengingat kemajuan teknologi, sambil memungkinkan pelari rekreasi memakai apa yang mereka inginkan.
Melansir Reuters, Chief Financial Officer (CFO) Nike Andrew Campion mengatakan kepada analis pada Desember 2019, pangsa pasar perusahaannya mencapai rekor tertinggi pada kuartal kedua tahun lalu, berkat kesuksesan model VaporFly.
Dan, sambil bercanda Campion bilang, "Waktu yang saya perlukan untuk berjalan melintasi kampus Nike di sini, di kantor pusat, telah berkurang setidaknya 4%. Jadi saya merasa senang tentang hal itu".
Sumber :
https://lifestyle.kontan.co.id/news/nike-vaporfly-sukses-bujuk-jutaan-pelari-amatir-ini-kisah-kontroversinya?page=all
Jumat, 24 Januari 2020 | 16:56 WIB
KONTAN.CO.ID - Holly Grundon, pelari amatir Inggris, sangat senang bisa memecahkan rekor kecepatan pribadi yang telah lama dia pegang. Perempuan 36 tahun ini bisa melahap half marathon alias 21,1 km dalam waktu kurang dari 1 jam 30 menit.
Tapi, raihan tersebut tak lepas dari keputusan Grundon beralih ke sepatu Nike Vaporfly. Catatan waktu pribadi terbaiknya (PB) itu membuat dia bertanya-tanya, apakah dia menipu diri sendiri, atau mengotori olahraga yang selalu ia cintai karena kemurniannya.
"Ketika Anda berlari, Anda hanya ingin berlari untuk diri sendiri," kata Grundon kepada Reuters. "Hanya kamu yang melawan jalan dan waktu yang ada dalam pikiranmu untuk dikalahkan," ujar dia yang juga menekuni trialton ini.
"Jadi, berinvestasi dalam sepasang sepatu yang dimaksudkan untuk membuatmu lebih cepat berlari secara otomatis, ya, ada pertimbangan etis, dan apakah itu bisa dikatakan curang, ya, saya rasa," ucap Grundon.
Grundon mengungkapkan, bertahun-tahun dia berusaja mengejar waktu half marathon dengan target 1 jam 30 menit, tapi tidak pernah berhasil. Hanya, "Beringsut lebih dekat dan lebih dekat ke waktu itu," ungkapnya.
Saat mengikuti acara lari half marathon di Madrid, Spanyol, Grundon pun memutuskan membeli Nike Vaporfly, setelah melihat pelari lainnya memakainya dan membaca ulasan tentang sepatu itu.
"Saya merasa sangat aneh saat memakainya, tetapi begitu berlari dan berlari, saya benar-benar merasa cepat," kata Grundon. "Saya berhasil mencapai target saya, bahkan di bawah waktu yang saya inginkan".
"Tetapi setelah acara lari, itu (Vaporfly) membuat saya bertanya-tanya, apakah saya harus memakainya. Karena saya pikir, saya mungkin bisa mengalahkan target saya hanya dengan sepatu yanng biasa saya pakai," ujar dia.
Studi ilmiah serta bukti anekdotal menunjukkan, sepatu lari Nike Vaporfly yang dilengkapi dengan sol busa super-kenyal yang membungkus pelat serat karbon, bisa meningkatkan efisiensi berlari antara 4% hingga 6%.
Fakta tersebut sukses membujuk jutaan pelari amatir termasuk Grundon untuk menyingkirkan sepatu favorit lama mereka dan mencoba Nike Vaporfly.
Sepatu itu juga menimbulkan pertanyaan di World Athletics, badan olahraga lari dunia, yang tampaknya akan meninjau peraturannya untuk lomba tingkat elit mengingat kemajuan teknologi, sambil memungkinkan pelari rekreasi memakai apa yang mereka inginkan.
Melansir Reuters, Chief Financial Officer (CFO) Nike Andrew Campion mengatakan kepada analis pada Desember 2019, pangsa pasar perusahaannya mencapai rekor tertinggi pada kuartal kedua tahun lalu, berkat kesuksesan model VaporFly.
Dan, sambil bercanda Campion bilang, "Waktu yang saya perlukan untuk berjalan melintasi kampus Nike di sini, di kantor pusat, telah berkurang setidaknya 4%. Jadi saya merasa senang tentang hal itu".
Sumber :
https://lifestyle.kontan.co.id/news/nike-vaporfly-sukses-bujuk-jutaan-pelari-amatir-ini-kisah-kontroversinya?page=all
Kontroversi Vaporfly ZoomX
Kontroversi Vaporfly ZoomX, Rekor Bertumbangan World Athletics Siapkan Larangan "Sepatu Super" Nike SPORT
Rabu, 15 Januari 2020 | 11:59 WIB
Sepatu kontroversial Nike Vaporfly yang digunakan pelari Kenya Brigid Kosgei saat mengakhiri rekor maraton Paula Radcliffe akan dilarang. Dikutip dari DailyMail kemarin belum ada keputusan apakah catatan rekor Kosgei akan tetap diakui atau tidak.
Atlet berusia 25 tahun itu mencatatkan waktu 2 jam 14 menit 4 detik di Chicago, jauh melampaui rekor Radcliffe 2:15:25 yang dicapainya pada even London Marathon 2003. Sepatu serupa yang diyakini World Athletics sebagai versi hibrid Vaporfly dan digunakan pelari Kenya Eliud Kipchoge saat mencatatkan rekor maraton tak resmi di Wina tahun lalu juga akan dilarang.
Eliud mengenakan Nike Vaporfly ZoomX saat mengakhiri batas maksimum maraton yang selama ini tak pernah di bawah dua jam dengan catatan waktu 1 jam 59 menit. Brigid Kosgei saat memecahkan rekor Paula Radcliffe. Pangkal persoalan yang diperdebatkan adalah komposisi busa dan serat karbon sol yang digunakannya.
Komposisi tadi memberi efek pegas yang membantu pelari mendapatkan dorongan maksimum dari setiap entakan. Badan teknis yang melakukan evaluasi akan memberikan hasil temuan mereka akhir bulan ini. Moratorium pun dipertimbangkan World Athletics (Asosiasi Internasional Federasi Atletik) guna menentukan apakah rekor yang dicatatkan atlet dengan menggunakan sepatu dimaksud akan tetap dipertahankan atau batal.
Aturan lainnya yang juga dipertimbangkan adalah batasan bagi produk sepatu revolusioner yang dikembangkan untuk pelari cepat. Fakta ini memicu kekhawatiran “atlet-atlet inferior” yang tampil Olimpiade Tokyo tahun ini akan memecahkan rekor 100 meter milik Usain Bolt (9,58 detik) dengan bantuan faktor teknologi. Eliud Kipchoge (dua kiri) kut menggunakan Nike Vaporfly ZoomX.
Informasi lainnya sepatu yang dikenakan Laura Muir saat memecahkan rekor Inggris untuk nomor mil dalam ruangan (4 menit 18,75 detik) di Glasgow tahun lalu kemungkinan juga akan dilarang. Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan pada World Athletics untuk menerapkan aturan lebih ketat terkait sepatu lari karena ditakutkan memengaruhi aspek integritas.
Keberhasilan Kosgei mengambil alih rekor Radcliffe dengan keunggulan impresif 1 menit 21 detik memicu permintaan untuk menyelidiki “produk berteknologi” Nike yang kian populer di kalangan dengan pelari amatir. Rilis terakhir menawarkan warna green neon selain pink.
Ada juga kekhawatiran atas dampak kesehatan jangka panjang. Pasalnya sepatu dengan pelat karbon pada sol membuat pelari cenderung menggunakan tumit alih-alih jari kaki untuk dorongan dalam setiap langkah. Untuk itu aturan yang membatasi ketebalan sol dan penggunaan pelat karbon diharapkan segera ditetapkan.
Regulasi saat ini menyatakan larangan sepatu yang memberikan keuntungan tidak adil dan sepatu pun harus tersedia untuk semua kalangan. Lalu apa tepatnya yang membuat Nike ZoomX Vaporfly Next kontroversial? Take a note.. Dibanderol 240 poundsterling atau tak kurang dari Rp 4,2 juta, setidaknya ada tiga poin yang memicu larangan.
Pertama lapisan atas sepatu terbuat dari Ripstop yang terbukti anti-air dan terbilang ringan. Kombinasi keduanya membuat sepatu tetap kering di kala hujan bahkan tidak menyerap keringat sehingga dijamin tetap terasa ringan.
Kedua, Nike menyertakan pelat serat karbon yang selain membuat sendi pergelangan kaki stabil, juga mengurangi beban pada otot betis. Hasilnya memengaruhi efesiensi gerakan saat berlari.
Terakhir busa ZoomX yang digunakan menyerap energi setiap kali sepatu mengenai lintasan dan memberi dorongan berupa entakan ekstra. Busa ZoomX ini pun “diinjek” dengan nitrogen demi efek peningkatan responsif.
Sumber :
https://www.galamedianews.com/sport-1/244675/kontroversi-vaporfly-zoomx-rekor-bertumbangan-world-athletics-siapkan-larangan--sepatu-super--nike.html
Rabu, 15 Januari 2020 | 11:59 WIB
Sepatu kontroversial Nike Vaporfly yang digunakan pelari Kenya Brigid Kosgei saat mengakhiri rekor maraton Paula Radcliffe akan dilarang. Dikutip dari DailyMail kemarin belum ada keputusan apakah catatan rekor Kosgei akan tetap diakui atau tidak.
Atlet berusia 25 tahun itu mencatatkan waktu 2 jam 14 menit 4 detik di Chicago, jauh melampaui rekor Radcliffe 2:15:25 yang dicapainya pada even London Marathon 2003. Sepatu serupa yang diyakini World Athletics sebagai versi hibrid Vaporfly dan digunakan pelari Kenya Eliud Kipchoge saat mencatatkan rekor maraton tak resmi di Wina tahun lalu juga akan dilarang.
Eliud mengenakan Nike Vaporfly ZoomX saat mengakhiri batas maksimum maraton yang selama ini tak pernah di bawah dua jam dengan catatan waktu 1 jam 59 menit. Brigid Kosgei saat memecahkan rekor Paula Radcliffe. Pangkal persoalan yang diperdebatkan adalah komposisi busa dan serat karbon sol yang digunakannya.
Komposisi tadi memberi efek pegas yang membantu pelari mendapatkan dorongan maksimum dari setiap entakan. Badan teknis yang melakukan evaluasi akan memberikan hasil temuan mereka akhir bulan ini. Moratorium pun dipertimbangkan World Athletics (Asosiasi Internasional Federasi Atletik) guna menentukan apakah rekor yang dicatatkan atlet dengan menggunakan sepatu dimaksud akan tetap dipertahankan atau batal.
Aturan lainnya yang juga dipertimbangkan adalah batasan bagi produk sepatu revolusioner yang dikembangkan untuk pelari cepat. Fakta ini memicu kekhawatiran “atlet-atlet inferior” yang tampil Olimpiade Tokyo tahun ini akan memecahkan rekor 100 meter milik Usain Bolt (9,58 detik) dengan bantuan faktor teknologi. Eliud Kipchoge (dua kiri) kut menggunakan Nike Vaporfly ZoomX.
Informasi lainnya sepatu yang dikenakan Laura Muir saat memecahkan rekor Inggris untuk nomor mil dalam ruangan (4 menit 18,75 detik) di Glasgow tahun lalu kemungkinan juga akan dilarang. Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan pada World Athletics untuk menerapkan aturan lebih ketat terkait sepatu lari karena ditakutkan memengaruhi aspek integritas.
Keberhasilan Kosgei mengambil alih rekor Radcliffe dengan keunggulan impresif 1 menit 21 detik memicu permintaan untuk menyelidiki “produk berteknologi” Nike yang kian populer di kalangan dengan pelari amatir. Rilis terakhir menawarkan warna green neon selain pink.
Ada juga kekhawatiran atas dampak kesehatan jangka panjang. Pasalnya sepatu dengan pelat karbon pada sol membuat pelari cenderung menggunakan tumit alih-alih jari kaki untuk dorongan dalam setiap langkah. Untuk itu aturan yang membatasi ketebalan sol dan penggunaan pelat karbon diharapkan segera ditetapkan.
Regulasi saat ini menyatakan larangan sepatu yang memberikan keuntungan tidak adil dan sepatu pun harus tersedia untuk semua kalangan. Lalu apa tepatnya yang membuat Nike ZoomX Vaporfly Next kontroversial? Take a note.. Dibanderol 240 poundsterling atau tak kurang dari Rp 4,2 juta, setidaknya ada tiga poin yang memicu larangan.
Pertama lapisan atas sepatu terbuat dari Ripstop yang terbukti anti-air dan terbilang ringan. Kombinasi keduanya membuat sepatu tetap kering di kala hujan bahkan tidak menyerap keringat sehingga dijamin tetap terasa ringan.
Kedua, Nike menyertakan pelat serat karbon yang selain membuat sendi pergelangan kaki stabil, juga mengurangi beban pada otot betis. Hasilnya memengaruhi efesiensi gerakan saat berlari.
Terakhir busa ZoomX yang digunakan menyerap energi setiap kali sepatu mengenai lintasan dan memberi dorongan berupa entakan ekstra. Busa ZoomX ini pun “diinjek” dengan nitrogen demi efek peningkatan responsif.
Sumber :
https://www.galamedianews.com/sport-1/244675/kontroversi-vaporfly-zoomx-rekor-bertumbangan-world-athletics-siapkan-larangan--sepatu-super--nike.html
4 Sepatu Nike Zoom
4 Sepatu Nike Zoom yang Bisa Bikin Performa Lari Lo Lebih Cepat
08/07/2019
Berlari bukan lagi sekadar olahraga, tapi kegiatan menyehatkan diri udah jadi sebuah gaya hidup buat sebagian orang. Yang paling harus diperhatikan dalam olahraga lari adalah sepatu. Kecepatan adalah fokus dari sepatu latihan (training) dan perlombaan (racing).
Nike adalah salah satu merek sepatu yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan setiap pelari, mulai dari pelari maraton kelas dunia hingga mereka yang sekadar menggunakannya buat berlari santai di akhir pekan. Dengan Nike Zoom Air full-length yang rapi atau bantalan busa Nike ZoomX yang sangat responsif, setiap sepatu dalam Zoom Family menawarkan pengalaman yang berbeda.
Mau tau sepatu Nike Zoom mana yang paling pas buat lo? Cek di bawah ini ya.
Nike Air Zoom Pegasus 36
Sepatu lari Nike terlaris sepanjang masa, kembali dengan bagian atas yang besar: Mesh yang dihadirkan dengan perforasi tambahan meningkatkan breathability di area yang bersuhu panas, seperti bagian kaki depan dan lengkungan sepatu. Kabel Flywire yang terbuka pada bagian tengah sepatu membuat lo tetap aman saat menambah kecepatan berlari. Kerah tumit dan lidah dihadirkan dengan lebih ramping, yang tentunya membuat sepatu menjadi lebih nyaman dan pas dari sebelumnya saat digunakan. Nike Air Zoom Pegasus 36 mempertahankan unit Zoom Air full-length (diperkenalkan pada Nike Air Zoom Pegasus 35) yang terbungkus oleh busa Cushlon pada bagian midsole untuk pergerakan yang mulus, responsif, dan empuk yang dapat lo andalkan setiap hari.
Nike Zoom Pegasus Turbo 2
Dalam pengulangannya yang kedua ini, versi everyday-trainer dari Nike Zoom Vaporfly 4% diperbarui dengan bagian atas yang lebih ringan dan lebih ramping, sebagian besar berkat bahan yang tembus cahaya dan lofted mesh. Ikatan pada bagian tengah mengunci kaki pada alas kaki saat melaju di kecepatan yang tinggi.
Nike Zoom Fly 3
Untuk pertama kalinya, Nike Zoom Fly 3 dibuat untuk perempuan yang memiliki sockliner yang sedikit lebih lembut dengan lengkungan yang lebih tinggi. Kedua versi pembaruan Nike Zoom Fly memiliki bagian atas yang lebih transparan dengan sistem ikatan pita lengkung baru yang dapat memberikan ukuran yang pas. Midsole Nike React yang lembut dan empuk memberikan bantalan yang sangat responsif dan menyediakan plat serat karbon full-length, menghadirkan sensasi tambahan. Offset sepatu dirancang untuk meminimalkan tekanan pada bagian Achilles dan ketinggian tumpukannya menawarkan perlindungan benturan bermil-mil. Hasilnya *dikonfirmasi oleh tes laboratorium – sepatu ini menjadi salah satu sepatu Nike tercepat dan paling efisien.
Nike ZoomX Vaporfly NEXT%
Beberapa atlet berpendapat bahwa Nike ZoomX Vaporfly NEXT% memainkan peran besar dalam memperbaiki sistem yang sudah sangat sukses dengan meningkatkan running economy. Selain itu, konstruksi material baru, yang disebut Vaporweave, di bagian atas dihadirkan dengan lebih ringan dari Nike Flyknit, breathable dan - secara kritis - menyerap lebih sedikit air dari keringat atau hujan, sehingga menjaga sepatu tetap airy/nyaman dan kering selama maraton.
Desainer menambahkan busa Nike ZoomX 15 persen lebih tinggi (mampu memberikan pengembalian energi hingga 85 persen) ke Nike ZoomX Vaporfly NEXT% - tetapi berat sepatu tetap sama dengan versi sebelumnya. Mereka juga mengurangi 3mm dari offset (sekarang 8mm), jadi lo dapat merasakan stabilitas yang lebih baik dan peningkatan konservasi energi sebelum toe-off.
(Masih tertanam di dalam busa adalah plat serat karbon full-length yang melengkung yang meningkatkan kekakuan (stiffness) untuk memberikan sensasi tenaga dorongan). Kemudian, pola traksi baru yang dihadirkan meningkatkan cengkeraman kaki depan sehingga sepatu lebih baik dalam cuaca basah. Selain itu, pada bagian luarnya terdapat tapak berkontur baru dengan lekukan dalam yang memfasilitasi gerakan lebih mulus saat belokan.
Nike Zoom Family di tahun 2019 ini diluncurkan dengan spektrum hijau neon (funfact : warna ini adalah warna yang paling terlihat oleh mata manusia lho). Untuk Nike ZoomX Vaporfly NEXT%, desainer menciptakan versi rona neon khas Nike yang disebut Nike Phantom Glow, karena susunan kimianya menghasilkan efek bersinar yang energik.
Sedangkan, sepatu lainnya menggunakan spektrum warna mulai dari yang lembut hingga berani, memastikan masing-masing warna dapat menonjol. Nike Zoom Series 2019 telah tersedia untuk member NikePlus di toko tertentu pada 13 Juni dan akan tersedia secara global pada 11 Juli.
Sumber :
https://today.line.me/id/pc/article/4+Sepatu+Nike+Zoom+yang+Bisa+Bikin+Performa+Lari+Lo+Lebih+Cepat-2PBKrN
08/07/2019
Berlari bukan lagi sekadar olahraga, tapi kegiatan menyehatkan diri udah jadi sebuah gaya hidup buat sebagian orang. Yang paling harus diperhatikan dalam olahraga lari adalah sepatu. Kecepatan adalah fokus dari sepatu latihan (training) dan perlombaan (racing).
Nike adalah salah satu merek sepatu yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan setiap pelari, mulai dari pelari maraton kelas dunia hingga mereka yang sekadar menggunakannya buat berlari santai di akhir pekan. Dengan Nike Zoom Air full-length yang rapi atau bantalan busa Nike ZoomX yang sangat responsif, setiap sepatu dalam Zoom Family menawarkan pengalaman yang berbeda.
Mau tau sepatu Nike Zoom mana yang paling pas buat lo? Cek di bawah ini ya.
Nike Air Zoom Pegasus 36
Sepatu lari Nike terlaris sepanjang masa, kembali dengan bagian atas yang besar: Mesh yang dihadirkan dengan perforasi tambahan meningkatkan breathability di area yang bersuhu panas, seperti bagian kaki depan dan lengkungan sepatu. Kabel Flywire yang terbuka pada bagian tengah sepatu membuat lo tetap aman saat menambah kecepatan berlari. Kerah tumit dan lidah dihadirkan dengan lebih ramping, yang tentunya membuat sepatu menjadi lebih nyaman dan pas dari sebelumnya saat digunakan. Nike Air Zoom Pegasus 36 mempertahankan unit Zoom Air full-length (diperkenalkan pada Nike Air Zoom Pegasus 35) yang terbungkus oleh busa Cushlon pada bagian midsole untuk pergerakan yang mulus, responsif, dan empuk yang dapat lo andalkan setiap hari.
Nike Zoom Pegasus Turbo 2
Dalam pengulangannya yang kedua ini, versi everyday-trainer dari Nike Zoom Vaporfly 4% diperbarui dengan bagian atas yang lebih ringan dan lebih ramping, sebagian besar berkat bahan yang tembus cahaya dan lofted mesh. Ikatan pada bagian tengah mengunci kaki pada alas kaki saat melaju di kecepatan yang tinggi.
Nike Zoom Fly 3
Untuk pertama kalinya, Nike Zoom Fly 3 dibuat untuk perempuan yang memiliki sockliner yang sedikit lebih lembut dengan lengkungan yang lebih tinggi. Kedua versi pembaruan Nike Zoom Fly memiliki bagian atas yang lebih transparan dengan sistem ikatan pita lengkung baru yang dapat memberikan ukuran yang pas. Midsole Nike React yang lembut dan empuk memberikan bantalan yang sangat responsif dan menyediakan plat serat karbon full-length, menghadirkan sensasi tambahan. Offset sepatu dirancang untuk meminimalkan tekanan pada bagian Achilles dan ketinggian tumpukannya menawarkan perlindungan benturan bermil-mil. Hasilnya *dikonfirmasi oleh tes laboratorium – sepatu ini menjadi salah satu sepatu Nike tercepat dan paling efisien.
Nike ZoomX Vaporfly NEXT%
Beberapa atlet berpendapat bahwa Nike ZoomX Vaporfly NEXT% memainkan peran besar dalam memperbaiki sistem yang sudah sangat sukses dengan meningkatkan running economy. Selain itu, konstruksi material baru, yang disebut Vaporweave, di bagian atas dihadirkan dengan lebih ringan dari Nike Flyknit, breathable dan - secara kritis - menyerap lebih sedikit air dari keringat atau hujan, sehingga menjaga sepatu tetap airy/nyaman dan kering selama maraton.
Desainer menambahkan busa Nike ZoomX 15 persen lebih tinggi (mampu memberikan pengembalian energi hingga 85 persen) ke Nike ZoomX Vaporfly NEXT% - tetapi berat sepatu tetap sama dengan versi sebelumnya. Mereka juga mengurangi 3mm dari offset (sekarang 8mm), jadi lo dapat merasakan stabilitas yang lebih baik dan peningkatan konservasi energi sebelum toe-off.
(Masih tertanam di dalam busa adalah plat serat karbon full-length yang melengkung yang meningkatkan kekakuan (stiffness) untuk memberikan sensasi tenaga dorongan). Kemudian, pola traksi baru yang dihadirkan meningkatkan cengkeraman kaki depan sehingga sepatu lebih baik dalam cuaca basah. Selain itu, pada bagian luarnya terdapat tapak berkontur baru dengan lekukan dalam yang memfasilitasi gerakan lebih mulus saat belokan.
Nike Zoom Family di tahun 2019 ini diluncurkan dengan spektrum hijau neon (funfact : warna ini adalah warna yang paling terlihat oleh mata manusia lho). Untuk Nike ZoomX Vaporfly NEXT%, desainer menciptakan versi rona neon khas Nike yang disebut Nike Phantom Glow, karena susunan kimianya menghasilkan efek bersinar yang energik.
Sedangkan, sepatu lainnya menggunakan spektrum warna mulai dari yang lembut hingga berani, memastikan masing-masing warna dapat menonjol. Nike Zoom Series 2019 telah tersedia untuk member NikePlus di toko tertentu pada 13 Juni dan akan tersedia secara global pada 11 Juli.
Sumber :
https://today.line.me/id/pc/article/4+Sepatu+Nike+Zoom+yang+Bisa+Bikin+Performa+Lari+Lo+Lebih+Cepat-2PBKrN
Sepatu Lari Nike Tercepat
Inikah Sepatu Lari Nike Tercepat?
Kompas.com - 27/04/2019, 18:27 WIB
KOMPAS.com - Sneakers Nike Zoom Vaporfly 4 mendapat sejumlah perubahan. Mulai dari menambahkan kata “Next%”, juga siluet dari ujung kaki hingga tumit yang berbeda. Perubahan itu berasal dari masukan yang diberikan oleh para juara dunia lari Nike.
Misalnya saja dari atlet Shalane Flanagan yang merasa kesulitan di maraton Boston karena diberatkan oleh air, sehingga bagian atas sepatu lebih ditingkatkan. Kemudian sol tengah diperbaiki yang merupakan solusi dari Nike Sport Research Lab yang menggabungkan masukan-masukan dari beberapa elit Nike.
Terakhir pola traksi yang didesain ulang setelah permintaan dari Eliud Kipchoge yang memiliki pengalaman mengikuti perlombaan di Berlin dalam cuaca basah. "Sepatu ini benar-benar hasil masukan dari atlet, ilmuwan olahraga, insinyur dan desainer kami yang berkolaborasi di seluruh proses desain, pengujian dan pembuatan,” kata Brett Holts, Nike VP Running Footwear dalam keterangan pers kepada Kompas.com.
"Kami semua sangat bersemangat untuk melihat Next% terus mendorong melebihi batas kinerja manusia pada lomba maraton di seluruh dunia.” Sepatu ini disebut menghasilkan peningkatan running economy sebesar 4 persen dibandingkan sepatu lari maraton Nike sebelumnya, Nike Zoom Streak 6.
Peningkatan pada Next% diibaratkan melihat setiap perlombaan menjadi kesempatan untuk mencapai garis finish lebih cepat. Seperti yang Mo Farah katakan, "Sebagai seorang atlet, kalian pasti akan mencari peningkatan persen berikutnya."
Secara keseluruhan, peningkatan teknis ini membuat Nike ZoomX Vaporfly Next% disebut menjadi sepatu Nike tercepat yang pernah ada. Fitur anyar Nike ZoomX Vaporfly NEXT%(NIKE)
Selain pembaruan di atas, sepatu ini memiliki sejumlah pembaruan lain.Vaporweave, misalnya, konstruksi bahan dimulai dari bagian atas, sehingga lebih ringan daripada Nike Flyknit, breathable dan menyerap lebih sedikit air dari keringat maupun air hujan dan membuat tetap sejuk serta kering selama maraton.
Kemudian pada bagian tali dibuat sedikit untuk mengurangi tekanan di sepanjang bagian sensitif kaki. Busa yang tipis di bagian tumit dalam membuat achilles tetap nyaman seiring dengan bertambahnya kilometer yang dilalui. Lalu terdapat lebih banyak busa pada sol bagian tengah Nike ZoomX, yang terbukti secara ilmiah di Nike’s Sport Research Lab dapat meningkatkan pengembalian energi.
Busanya juga didistribusikan kembali, di mana mengurangi offset dari 11mm menjadi 8mm untuk memberikan perasaan yang lebih stabil dan membantu memaksimalkan pengembalian energi pada saat toe-off. Desainer menggabungkan pola kustomisasi Kirui, Kipchoge, dan Farah untuk meningkatkan cengkeraman kaki bagian depan, sehingga sepatu akan berfungsi lebih baik pada cuaca basah.
Terakhir, tapak berkontur dengan lekukan yang dalam di bagian sol luar sepatu membuat gerakan yang lebih halus pada saat belokan. Nah, beberapa hal yang juga ditemui dari sepatu sebelumnya pada seri ini adalah berat yang tetap sama, meskipun ditambah 15 persen busa.
Sumber :
https://lifestyle.kompas.com/read/2019/04/27/182747720/inikah-sepatu-lari-nike-tercepat?page=all.
Kompas.com - 27/04/2019, 18:27 WIB
Nike ZoomX Vaporfly NEXT%
KOMPAS.com - Sneakers Nike Zoom Vaporfly 4 mendapat sejumlah perubahan. Mulai dari menambahkan kata “Next%”, juga siluet dari ujung kaki hingga tumit yang berbeda. Perubahan itu berasal dari masukan yang diberikan oleh para juara dunia lari Nike.
Misalnya saja dari atlet Shalane Flanagan yang merasa kesulitan di maraton Boston karena diberatkan oleh air, sehingga bagian atas sepatu lebih ditingkatkan. Kemudian sol tengah diperbaiki yang merupakan solusi dari Nike Sport Research Lab yang menggabungkan masukan-masukan dari beberapa elit Nike.
Terakhir pola traksi yang didesain ulang setelah permintaan dari Eliud Kipchoge yang memiliki pengalaman mengikuti perlombaan di Berlin dalam cuaca basah. "Sepatu ini benar-benar hasil masukan dari atlet, ilmuwan olahraga, insinyur dan desainer kami yang berkolaborasi di seluruh proses desain, pengujian dan pembuatan,” kata Brett Holts, Nike VP Running Footwear dalam keterangan pers kepada Kompas.com.
"Kami semua sangat bersemangat untuk melihat Next% terus mendorong melebihi batas kinerja manusia pada lomba maraton di seluruh dunia.” Sepatu ini disebut menghasilkan peningkatan running economy sebesar 4 persen dibandingkan sepatu lari maraton Nike sebelumnya, Nike Zoom Streak 6.
Peningkatan pada Next% diibaratkan melihat setiap perlombaan menjadi kesempatan untuk mencapai garis finish lebih cepat. Seperti yang Mo Farah katakan, "Sebagai seorang atlet, kalian pasti akan mencari peningkatan persen berikutnya."
Secara keseluruhan, peningkatan teknis ini membuat Nike ZoomX Vaporfly Next% disebut menjadi sepatu Nike tercepat yang pernah ada. Fitur anyar Nike ZoomX Vaporfly NEXT%(NIKE)
Selain pembaruan di atas, sepatu ini memiliki sejumlah pembaruan lain.Vaporweave, misalnya, konstruksi bahan dimulai dari bagian atas, sehingga lebih ringan daripada Nike Flyknit, breathable dan menyerap lebih sedikit air dari keringat maupun air hujan dan membuat tetap sejuk serta kering selama maraton.
Kemudian pada bagian tali dibuat sedikit untuk mengurangi tekanan di sepanjang bagian sensitif kaki. Busa yang tipis di bagian tumit dalam membuat achilles tetap nyaman seiring dengan bertambahnya kilometer yang dilalui. Lalu terdapat lebih banyak busa pada sol bagian tengah Nike ZoomX, yang terbukti secara ilmiah di Nike’s Sport Research Lab dapat meningkatkan pengembalian energi.
Busanya juga didistribusikan kembali, di mana mengurangi offset dari 11mm menjadi 8mm untuk memberikan perasaan yang lebih stabil dan membantu memaksimalkan pengembalian energi pada saat toe-off. Desainer menggabungkan pola kustomisasi Kirui, Kipchoge, dan Farah untuk meningkatkan cengkeraman kaki bagian depan, sehingga sepatu akan berfungsi lebih baik pada cuaca basah.
Terakhir, tapak berkontur dengan lekukan yang dalam di bagian sol luar sepatu membuat gerakan yang lebih halus pada saat belokan. Nah, beberapa hal yang juga ditemui dari sepatu sebelumnya pada seri ini adalah berat yang tetap sama, meskipun ditambah 15 persen busa.
Sumber :
https://lifestyle.kompas.com/read/2019/04/27/182747720/inikah-sepatu-lari-nike-tercepat?page=all.
Monday, February 3, 2020
Marathon Method 10/10/10
How to Run a Marathon With the 10/10/10 Method
OCT 4, 2019
There’s so much that goes into training for a marathon, but learning how to pace yourself correctly for race day may be *the* most important element. Think about the elites: When they’re running a marathon, the actual racing doesn’t usually start until they’re around 18 to 20 miles in, or digging deep for that last 10K.
Anyone who’s ever run a marathon will warn you against going out too fast (LOL, who can hold themselves back at the start line?) or tell you that you should try to run the second half faster than the first (negative splits are so much easier said than done). But there is an actual method for training to pick up the pace so far into the race: It’s called the 10/10/10 method.
The 10/10/10 approach to the marathon calls for splitting the race into three separate sections: the first 10 miles, the second 10 miles, and the final 10K. “To paraphrase the great words of Nike Run Coach Julia Lucas, run the first 10 miles with your head, the next 10 miles with your training, and the last 10K with your heart,” says Jes Woods, a Nike Run Club Coach in New York City who implements the 10/10/10 method with the marathon runners she coaches. Let’s break that down a little further.
The First 10 Miles
Running the first 10 miles with your head means being smart, being patient, and listening to your coach. “You want to make a conscious effort to hold back and run the first 10 miles at a pace that’s slightly slower than your goal marathon pace,” says Woods.
It’s hard, for sure—there’s a boat load of nervous energy at any marathon start line, and it’s extremely difficult to not get swept up in the excitement or start weaving around the hordes of runners to find your space. But taking the first portion slow means you’re also giving your body a chance to properly warm up and adjust to the running ahead, because chances are, you just stood in a corral for some time anxiously awaiting the gun.
“You’re being strategically conservative with this method to ensure (or ensure as best you can) that you don’t go out too fast and die a slow death,” says Woods.
The Next 10 Miles
Running the second 10 miles with your legs is all about trusting your training, says Woods. “Let your body do what it has been trained to do,” she says. “This is where you want to hit goal marathon pace like a metronome. Let it feel rhythmic and settle in.” You know this pace; you’ve trained for this pace.
How to Add Speed Workouts to Marathon Training
At this point, your legs should be feeling good—after all, you just ran 10 miles at a pace slightly slower than the goal marathon pace you’ve been training at. Ease down on the gas pedal until you’re cruising at goal marathon pace, which your body should feel accustomed to. “Mentally, you now ‘only’ have to run 10 miles at goal marathon pace. That is neat!” says Woods—and any psychological tricks can help at this point in the race.
The Final 10K
Running the last 10K with your heart should be pretty self-explanatory: This is where you let it rip. “Your strength doesn’t come from your body, it comes from your heart—OK, and that fire in your belly asking you, ‘How bad do you want it?’” says Woods.
The last miles should be your strongest miles following this method. “This is your time to surge and start knocking down some roadkill—which sounds aggressive, but I think there’s no cooler feeling than picking off runners one by one in the final miles of the marathon,” says Woods (remember, any psychological trick can help!). If you’ve been patient (during those first 10 miles) and followed the plan (during the next 10 miles), the final 10K is your time to shine.
How to Train to Race 10/10/10
First, in the same way you might try running negative splits during your weekly long runs, trying this method out in training is a good way to prep your body for race day. “Once a month, you should practice a long run that includes a number of miles at goal marathon pace,” says Woods. For example: first 10 miles easy, last 5 miles at goal marathon pace. “Your long runs should always start off slow then gradually progress,” says Woods. That’s going to teach your body to practice patience, ease into race pace, and finish strong.
Full Marathon Training Plans
First-Timers Marathon (16 weeks, 12–40 miles per week)
Beginners Marathon (16 weeks, 16–44 miles per week)
Intermediate Marathon (16 weeks, 26–51 miles per week)
Advanced Marathon (16 weeks, 34–65 miles per week)
20-Week Marathon (20 weeks, 12–44 miles per week)
Then, add in some strategic speedwork. Most marathon training plans call for one or two days of speedwork a week. Woods suggests incorporating split 800s—repeat efforts where you shift from running 400 meters at marathon pace, then 400 at 10K pace. “That drastic gear change is going to help you practice turning over your legs and running fast on tired legs.” And that—plus the heart—is really all you need to close in on the finish line.
Sumber :
https://www.runnersworld.com/training/a29342955/marathon-training-strategy/
OCT 4, 2019
There’s so much that goes into training for a marathon, but learning how to pace yourself correctly for race day may be *the* most important element. Think about the elites: When they’re running a marathon, the actual racing doesn’t usually start until they’re around 18 to 20 miles in, or digging deep for that last 10K.
Anyone who’s ever run a marathon will warn you against going out too fast (LOL, who can hold themselves back at the start line?) or tell you that you should try to run the second half faster than the first (negative splits are so much easier said than done). But there is an actual method for training to pick up the pace so far into the race: It’s called the 10/10/10 method.
The 10/10/10 approach to the marathon calls for splitting the race into three separate sections: the first 10 miles, the second 10 miles, and the final 10K. “To paraphrase the great words of Nike Run Coach Julia Lucas, run the first 10 miles with your head, the next 10 miles with your training, and the last 10K with your heart,” says Jes Woods, a Nike Run Club Coach in New York City who implements the 10/10/10 method with the marathon runners she coaches. Let’s break that down a little further.
The First 10 Miles
Running the first 10 miles with your head means being smart, being patient, and listening to your coach. “You want to make a conscious effort to hold back and run the first 10 miles at a pace that’s slightly slower than your goal marathon pace,” says Woods.
It’s hard, for sure—there’s a boat load of nervous energy at any marathon start line, and it’s extremely difficult to not get swept up in the excitement or start weaving around the hordes of runners to find your space. But taking the first portion slow means you’re also giving your body a chance to properly warm up and adjust to the running ahead, because chances are, you just stood in a corral for some time anxiously awaiting the gun.
“You’re being strategically conservative with this method to ensure (or ensure as best you can) that you don’t go out too fast and die a slow death,” says Woods.
The Next 10 Miles
Running the second 10 miles with your legs is all about trusting your training, says Woods. “Let your body do what it has been trained to do,” she says. “This is where you want to hit goal marathon pace like a metronome. Let it feel rhythmic and settle in.” You know this pace; you’ve trained for this pace.
How to Add Speed Workouts to Marathon Training
At this point, your legs should be feeling good—after all, you just ran 10 miles at a pace slightly slower than the goal marathon pace you’ve been training at. Ease down on the gas pedal until you’re cruising at goal marathon pace, which your body should feel accustomed to. “Mentally, you now ‘only’ have to run 10 miles at goal marathon pace. That is neat!” says Woods—and any psychological tricks can help at this point in the race.
The Final 10K
Running the last 10K with your heart should be pretty self-explanatory: This is where you let it rip. “Your strength doesn’t come from your body, it comes from your heart—OK, and that fire in your belly asking you, ‘How bad do you want it?’” says Woods.
The last miles should be your strongest miles following this method. “This is your time to surge and start knocking down some roadkill—which sounds aggressive, but I think there’s no cooler feeling than picking off runners one by one in the final miles of the marathon,” says Woods (remember, any psychological trick can help!). If you’ve been patient (during those first 10 miles) and followed the plan (during the next 10 miles), the final 10K is your time to shine.
How to Train to Race 10/10/10
First, in the same way you might try running negative splits during your weekly long runs, trying this method out in training is a good way to prep your body for race day. “Once a month, you should practice a long run that includes a number of miles at goal marathon pace,” says Woods. For example: first 10 miles easy, last 5 miles at goal marathon pace. “Your long runs should always start off slow then gradually progress,” says Woods. That’s going to teach your body to practice patience, ease into race pace, and finish strong.
Full Marathon Training Plans
First-Timers Marathon (16 weeks, 12–40 miles per week)
Beginners Marathon (16 weeks, 16–44 miles per week)
Intermediate Marathon (16 weeks, 26–51 miles per week)
Advanced Marathon (16 weeks, 34–65 miles per week)
20-Week Marathon (20 weeks, 12–44 miles per week)
Then, add in some strategic speedwork. Most marathon training plans call for one or two days of speedwork a week. Woods suggests incorporating split 800s—repeat efforts where you shift from running 400 meters at marathon pace, then 400 at 10K pace. “That drastic gear change is going to help you practice turning over your legs and running fast on tired legs.” And that—plus the heart—is really all you need to close in on the finish line.
Sumber :
https://www.runnersworld.com/training/a29342955/marathon-training-strategy/
Saturday, February 1, 2020
Borobudur Marathon 2020
Pendaftaran Borobudur Marathon 2020 Dibuka 17 Maret
Kamis 30 Januari 2020, 21:31 WIB
PENDAFTARAN Borobudur Marathon 2020 dibuka 17 Maret. Event itu akan berlangsung pada 15 November. Hal itu dikemukakan oleh Komite Pelaksana Borobudur Marathon 2020 Budhi Sarwiadi di The Maj, Jakarta, Kamis (30/1).
Budhi mengatakan pendaftaran akan dibuka selama sebulan penuh di website, borobudurmarathon.com.
"Mulai tanggal 17 di web kita, para runner tidak perlu buru-buru, selama sebulan kami buka pendaftaran dan runner bisa memilih kategori yang ada," kata Budhi.
Ia merinci event yang menyediakan Rp2,7 miliar untuk hadiah itu tidak beda dengan tahun lalu yang menghadirkan tiga kategori, yakni half marathon, marathon, dan 10k.
"Kompisisinya 20% untuk marathon, 40% untuk half marathon, dan 40% untuk 10k," ungkap Budhi.
Pihaknya menargetkan kurang lebih 12 ribu peserta pada event kali ini. Angka ini melebihi angka peserta tahun lalu yang mencapai 10 ribu.
"Memang untuk peserta itu memang sesuai dengan rute kita. Kalau seperti Tokyo Marathon yang bisa 30 ribu peserta itu harus dibangun infrastrukturnya. Mungkin beberapa tahun mendatang kita bisa mengikuti jejak Tokyo," kata Budhi.
Lebih lanjut, Budhi mengatakan pihaknya kali ini akan mengedepankan aspek budaya Jawa Tengah. Ia mengatakan akan ada yang baru baik dari segi promosi dan saat event berlangsung dengan penambahan unsur budaya.
"Jadi ini tidak hanya event lari, Borobudur Marathon ini akan membawa spirit budaya, kita akan tambahkan dan umumkan nanti," tandasnya. (OL-8)
Sumber :
https://mediaindonesia.com/read/detail/286842-pendaftaran-borobudur-marathon-2020-dibuka-17-maret
Kamis 30 Januari 2020, 21:31 WIB
PENDAFTARAN Borobudur Marathon 2020 dibuka 17 Maret. Event itu akan berlangsung pada 15 November. Hal itu dikemukakan oleh Komite Pelaksana Borobudur Marathon 2020 Budhi Sarwiadi di The Maj, Jakarta, Kamis (30/1).
Budhi mengatakan pendaftaran akan dibuka selama sebulan penuh di website, borobudurmarathon.com.
"Mulai tanggal 17 di web kita, para runner tidak perlu buru-buru, selama sebulan kami buka pendaftaran dan runner bisa memilih kategori yang ada," kata Budhi.
Ia merinci event yang menyediakan Rp2,7 miliar untuk hadiah itu tidak beda dengan tahun lalu yang menghadirkan tiga kategori, yakni half marathon, marathon, dan 10k.
"Kompisisinya 20% untuk marathon, 40% untuk half marathon, dan 40% untuk 10k," ungkap Budhi.
Pihaknya menargetkan kurang lebih 12 ribu peserta pada event kali ini. Angka ini melebihi angka peserta tahun lalu yang mencapai 10 ribu.
"Memang untuk peserta itu memang sesuai dengan rute kita. Kalau seperti Tokyo Marathon yang bisa 30 ribu peserta itu harus dibangun infrastrukturnya. Mungkin beberapa tahun mendatang kita bisa mengikuti jejak Tokyo," kata Budhi.
Lebih lanjut, Budhi mengatakan pihaknya kali ini akan mengedepankan aspek budaya Jawa Tengah. Ia mengatakan akan ada yang baru baik dari segi promosi dan saat event berlangsung dengan penambahan unsur budaya.
"Jadi ini tidak hanya event lari, Borobudur Marathon ini akan membawa spirit budaya, kita akan tambahkan dan umumkan nanti," tandasnya. (OL-8)
Sumber :
https://mediaindonesia.com/read/detail/286842-pendaftaran-borobudur-marathon-2020-dibuka-17-maret
Subscribe to:
Comments (Atom)











