Monday, May 22, 2023

Apa Beda Sepatu Running, Training dan Casual?

Seiring perkembangan zaman, sepatu sneakers pun berubah menyusaikan teknologi dan kebutuhan. Bila dahulu satu sepatu bisa dipakai untuk berbagai kegiatan, kini hampir tiap olahraga atau aktivitas memiliki jenis sepatunya sendiri. 

Muncullah sepatu lari, training, basket, skateboard, casual, dan masih banyak lagi. Nah, tahukah Anda apa perbedaannya? Biasanya yang sedikit membingungkan adalah beda antara sepatu lari, training dan casual (santai), karena bentuknya hampir mirip. 

Prizka Rahmanisa, Ekin - Product Specialist Nike Indonesia memberikan penjelasan soal perbedaan dari ketiga jenis sepatu tersebut. Adapun penjelasan ini agar Anda tak salah memilih sepatu yang bisa berujung cedera bila digunakan. 

1. Training Sepatu ini digunakan untuk olahraga yang melatih otot-otot di pusat kebugaran, senam atau yoga. Oleh karena itu, kata Prizka, semua sepatu training dirancang untuk gerakan segala arah. "Kalau training kan akan lompat kiri, kanan dan belakang, memiliki gerakan variatif. Nah sepatu training akan menjaga kaki tetap seimbang. Karena itu dia memiliki grip lebih lengket ke permukaan," ujar Prizka kepada Kompas Lifestyle saat Grand Opening Nike Womens di Central Department Store, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (16/8/2017).

2. Running Sepatu running memang dirancang khusus untuk berlari. Terdapat beberapa tipe lagi dalam sepatu lari, seperti trail running  atau lari di permukaan off road dan marathon running atau lari di permukaan datar seperti aspal. Kendati demikian, sepatu lari ini memang didesain untuk satu arah, yakni ke depan. "Sepatu running tidak seperti training yang kaku. Dia lebih lentur," kata Prizka. Daya tahan sepatu lari juga lebih kuat karena dia cenderung menitikberatkan pada lapisan luar. 

3. Casual Untuk sepatu ini memang dirancang untuk santai. Teknologi yang dipakai berbeda dengan sepatu training dan running. "Sepatu ini memang untuk jalan-jalan saja, bukan buat lari atau training," kata dia. Prizka menambahkan ketiga jenis sepatu itu hampir tidak memiliki perbedaan bentuk, karena masing-masing bisa memiliki bentuk serupa. Namun, untuk membedakan dengan cara sederhana bisa dilihat dari bagian atasnya (upper). 

Pada sepatu casual, upper lebih tebal, rigid dan kaku. Selain itu bahan upper lebih beragam, bisa dari kulit dan bahan pendukung lain. Ragam bahan ini karena memang diperuntukkan untuk tampilan, bukan olahraga. "Karena dia kan sehari-hari buat jalan kan," kata Prizka. Sementara itu pada sepatu running upper lebih empuk. Karena memang didesain agar nyaman saat dipakai lari. Untuk sepatu training, beberapa model hampir sama dengan running, tapi rata-rata lebih keras. "Karena dia kan butuh daya tahan lebih tinggi, karena banyak gesekan," kata dia. 

Lantas apakah masing-masing sepatu bisa digunakan untuk aktivitas lain? Prizka mengatakan bahwa itu adalah ide buruk dan bisa membuat Anda cedera. Orang yang beraktivitas training tapi memakai sepatu running misalnya, gerakannya tidak akan semudah saat pakai sepatu training. 

"Dia enggak akan seimbang, lebih licin dan daya tahan sepatunya pun akan jadi lebih pendek dibandingkan dia pakai sepatu yang benar," ujar Prizka. Bagaimana bila seseorang yang melakukan aktivitas lari, tapi memakai sepatu training? Menurut Prizka memang ada beberapa jenis sepatu training yang bisa dipakai lari yang memiliki bantalan lebih tebal 

"Tapi memiliki batas hingga 5 kilometer. Karena daya tahan memang tidak dirancang untuk lari," kata dia. Adapun untuk sepatu casual, Prizka memastikan bahwa jenis itu tidak cocok dipakai untuk lari atau pun training. Risiko orang yang menggunakan adalah cedera. "Karena memang teknologi pembuatan sepatu itu tidak dirancang untuk lari atau training," ujarnya.


Sumber :

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/08/18/105947820/apa-beda-sepatu-running-training-dan-casual-?page=all.

Sunday, May 21, 2023

Manfaat Jalan Kaki di Pagi Hari


Manfaat Jalan Kaki di Pagi Hari
22 Juli 2020

Jalan kaki merupakan olahraga sederhana yang dapat dilakukan di mana saja tanpa butuh peralatan apapun. Meski sangat sederhana, jalan kaki setiap hari memiliki manfaat yang luar biasa. Jika dilakukan secara rutin, kamu bisa menikmati beberapa manfaat jalan kaki berikut ini!

Baca juga: Mitos atau Fakta Pengidap Diabetes Dilarang Berolahraga?

1.Menurunkan Berat Badan

Menurunkan berat badan adalah manfaat jalan kaki yang pertama. Berjalan kaki dengan kecepatan sedang selama 30 menit dapat membakar hingga 150 kalori dalam tubuh. Apalagi jika berjalan kaki dikombinasikan dengan diet sehat dan latihan kekuatan, berat badan lebih cepat menurun.

2.Menyehatkan Organ Jantung

Berjalan kaki dengan santai merupakan pilihan baik bagi orang yang memiliki masalah jantung. Berjalan 30 menit di pagi hari dapat membantu menurunkan tekanan darah dalam tubuh. Jika jalan kaki dilakukan secara teratur, maka akan memperkuat jantung dan mengontrol tekanan darah. 

3.Mencegah Stroke

Manfaat jalan kaki selanjutnya adalah mencegah penyakit stroke. Hal tersebut dapat terjadi jika dilakukan 5 kali dalam seminggu, dengan waktu 30 menit setiap sesinya. Berjalan kaki juga dapat membantu pemulihan bagi orang yang mengalami stroke.

4.Menurunkan Risiko Diabetes

Jalan kaki selama 30 menit setiap hari dapat membantu meningkatkan kontrol gula darah serta membantu manajemen insulin pada diabetes Tipe 2. Berjalan kaki akan membuat sel-sel dalam tubuh menggunakan glukosa yang tidak terpakai, sehingga lemak dalam tubuh dapat diolah dengan baik, dan menurunkan risiko obesitas

Baca juga: Waspada, Terlalu Lama Bersepeda Sebabkan Gangguan Prostat

5.Cegah Arthritis dan Osteoporosis

Gaya hidup yang tidak aktif merupakan pemicu utama kaku pada persendian. Jika sudah terjadi, makan gejala akan berkembang menjadi radang sendi. Untuk mencegahnya, sebaiknya lakukan aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki 5 kali dalam seminggu. Berjalan dapat melatih kekuatan sendi, dengan meningkatkan kepadatan tulang.

6.Menguatkan Otot

Berjalan dapat membantu memperkuat otot-otot kaki. Untuk hasil yang maksimal, kamu bisa berjalan kaki dengan kecepatan sedang hingga cepat. Cobalah untuk mengubah rutinitas yang tadinya bermalas-malasan untuk berolahraga. Selain berjalan kaki, kamu bisa menambahkan latihan penguatan kaki seperti squat dan lunges beberapa kali dalam seminggu agar otot menjadi lebih sehat.

7.Kontrol Kadar Kolesterol

Kolesterol tinggi akan berujung pada masalah jantung yang berbahaya bagi kesehatan pengidapnya. Untuk mengontrol kadarnya, kamu dapat mengikuti gaya hidup aktif, seperti berjalan kaki. Jalan kaki dapat mencegah Aterosklerosis, yang disebabkan oleh arteri yang tersumbat karena penimbunan plak atau kolesterol pada dinding arteri. 

8.Meningkatkan Fokus

Manfaat jalan kaki selanjutnya adalah meningkatkan fokus. Jalan pagi dapat membantu meningkatkan kejernihan mental dan kemampuan untuk berpikir sepanjang hari. Selain meningkatkan fungsi kognitif, berjalan kaki juga dapat membantu seseorang untuk berpikir lebih kreatif.

Hal tersebut dapat terjadi karena olahraga teratur dapat membantu melindungi ingatan dan meningkatkan keterampilan berpikir, karena oksigen dan suplai darah ke otak dipercepat. 

9.Mencegah Depresi

Saat seseorang mengalami perubahan suasana hati, hal tersebut mungkin saja akan menimbulkan banyak gangguan lainnya. Kamu dapat mencegah hal tersebut dengan berjalan kaki. Saat berjalan, endorfin pembunuh rasa sakit akan mengalir dengan baik ke seluruh tubuh. Untuk mendapatkan manfaat yang lebih dalam mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, mengurangi kecemasan, serta kelelahan, kamu dapat berjalan kaki selama 30-60 menit setiap hari.


Sumber :
https://www.halodoc.com/artikel/manfaat-jalan-kaki-di-pagi-hari

Sunday, April 9, 2023

Disciplined People

12 Things Disciplined People Do That Bring Them Success

Disclosure: this page contains affiliate links to select partners. We receive a commission should you choose to make a purchase after clicking on them. What makes some people more successful than others?

Or rather, what is the driving force behind their success that other people don’t seem to embody?

That success isn’t limited to financial gain or career advancement, but can also encompass keeping their house clean, or staying in good physical shape. Generally, people who are successful at the things they do in life share one thing in common: discipline.

But what does discipline mean?

Most people associate that word with other people’s rules, and the punishments that follow if those rules are broken. In this instance, however, discipline is defined by self-control, structure, and order.

Below are some of the main things that disciplined people do that bring them success.


1. They don’t make excuses.

Most people have a litany of excuses as to why they don’t do one thing or another. Either it’s not the right time, or they don’t have the right equipment, or they have to take care of X things first.

Disciplined people know what their priorities are, and they set everything else aside until they’ve taken care of what needs to be done.

If they’ve decided to wash the dishes every evening but one night they want to chill and watch a movie instead, they know the movie can wait. They made a commitment to do this, and that commitment takes precedence over anything else.

If they black out from exhaustion or pain, that’s a different story, but choosing to set aside a priority for the sake of wanting something else more isn’t an option for them.

Similarly, if an obstacle comes up that they didn’t anticipate, they’ll find a way around it and won’t use that obstacle as an excuse not to do something.


2. They have established goals.

A disciplined person who wants to attain a goal will make sure to go about it the right way. They’ll usually use the SMART method: specific, measurable, achievable, relevant, and time-bound.

For instance, instead of saying “I’d really like to learn Spanish sometime,” they’ll say “I will reach B2 Spanish proficiency within two years of study.” That covers the specific and time-bound portion of the program. Then they’ll choose how much time they spend studying and practicing said language weekly and keep track of their progress. Additionally, they might reward themselves as they reach different milestones.

This is an effective approach because it’s neatly laid out and follows a very specific path. They don’t have to wonder which steps they’ll need to take next: there are stepping stones and guidelines to follow.


3. They have a regular routine.

Having a regular routine takes the guesswork out of what to do on any given day. Instead of waking up and wondering how to allocate that day’s time, they know exactly what their plans are and what’s needed to get them done.

They might start every day with a shower and a smoothie, or end every evening with yoga and journaling. Maybe they go to a class every Tuesday and Thursday so they know they have those days to either burn off energy or to look forward to in terms of creativity and socializing.

People thrive on routine from infancy onwards, although many get rebellious and try to live as spontaneously and chaotically as possible. Here’s a fun tip, however: if you pay attention, you’ll find that even the wildest party people also have a routine, even if they refuse to admit it. This may be as simple as ordering the same thing every time they go to their favorite café. It’s a touchstone they hold subconsciously to maintain some degree of order and security in their life.


4. They aim for consistency.

This is a bit different from a routine, as not everything has to happen daily (or weekly) for it to remain consistent. Rather, it’s holding fast to a commitment, whether it’s at home or abroad. It might relate to a decision they’ve made about their food choices, dedication to learning a new language or skill, and so on.

For example, they might decide that they aren’t going to eat sugar anymore. As such, they won’t keep any sugar in the house, nor will they buy any pre-made products that have added sugar. In order to maintain consistency, however, they’ll also avoid consuming it when they aren’t at home.

The same goes for learning something new or meditating. If they’re travelling, they might install a language app on their phone so they can keep practicing on flights or train rides. Or they’ll take a few minutes to meditate first thing in the morning, and do a bit of yoga before bed. This way they maintain a consistent practice regardless of extenuating circumstances. (Remember the “no excuses” bit mentioned first? That.)


5. They eliminate distractions and don’t waste time.

These two go hand in hand, as many people waste countless minutes (or hours) of their life on empty amusements.

Pay attention to what you make time for, and what you don’t. If you say that you have “no time” to exercise or study, but you can play games on your phone for hours, then you have plenty of time: you’re just choosing to spend it poorly.

Successful people will not waste their time on things that don’t move them toward a desired outcome, outside of allotted leisure or social time that is. They will set aside all possible distractions so they can focus on the task or pursuit at hand.

If they’re going to exercise or study, they’ll leave things such as phones or books in another room so there’s nothing within reach to tempt them. Think about a dojo or ashram: these are large, clean spaces that are empty of everything except vital equipment and water bottles.


6. They make lists (and stick to them).

I’m an enthusiastic list-maker now, but I wasn’t always this way. About 20 years ago, I had an amazing, inspiring boss who shared his method for staying on course. Every morning, before diving into the day’s work, he made a list of everything he needed and wanted to accomplish that day.

He estimated how much time each task would take to accomplish and wrote down that number beside every item on the list. Then he determined which were the most important, and which could be done later. As such, he could approach the day’s tasks like triage, knowing which were priorities and allotting himself X amount of time to do each of them.

Only rarely was he unable to accomplish everything on his daily list, and those occasions were always due to extenuating circumstances such as a power outage or fire drill.


7. They’re organized.

People organize their time and schedules in ways that work best for them. For example, one might have a digital planner in which they keep track of things like work deadlines, appointments, and so on, while another keeps a notepad in their pocket so they can check things off as they complete them.

I have two massive dry-erase calendars on the kitchen wall: one is a weekly planner, and one covers three months at a glance.

This type of organization also extends to physical items. Everything has a rightful place to be stored, so shoes and clothes are tucked away neatly instead of thrown on the floor, different culinary ingredients are stored in a manner that makes sense to the cook, and so on.

In my case, ingredients for different cultural dishes are kept together. I know that I’ll always find the ghee and kaala chana flour in the same pantry container, and another box contains tahini, sumac, and za’atar. This is logical organization, with items that go together being stored together.


8. They keep company with people who have similar goals or dedication.

Few things are as detrimental to self-discipline as being surrounded by naysayers and saboteurs. You might think that most people wouldn’t try to dissuade or sabotage those around them—especially those they claim to care about—but a quick scan through the AITA subreddit will change your mind.

Friends and family members might mock you for your lifestyle choices. If you’ve gone vegan, they might sneak meat juice into your food. Or they might break your exercise equipment to prevent you from getting into shape. This often happens when people feel insecure about their own lifestyle and try to force others to their level.

Disciplined people surround themselves with those who either share their type of discipline, or encourage it. They keep each other on track, and they won’t bring temptations or negativity into the group.


9. They hold themselves accountable.

We talked about excuses earlier, but this is different. Many people blame others for their misfortunes rather than taking accountability for how things panned out.

Some take the victimhood approach, talking about how a trauma in their past means that now they get triggered if they don’t finish a project on time, thus making their shortcomings someone else’s fault.

Disciplined people know that they are the authors of their own stories, and thus are the ones ultimately responsible if endeavors are successful. Or not.

If they screw up because they procrastinated or forgot to get something done on time, they own it. Furthermore, not only do they hold themselves accountable, they also take steps to remedy the situation.

This doesn’t just apply to their personal pursuits, either. Disciplined people make great employers because they own up to missteps and make amends for them quickly, rather than trying to pass the buck or explain away their errors. This shows immense integrity and earns them a great deal of respect.


10. They stay in their lane.

Or, in simpler terms, they make their own lives a priority instead of pouring time and energy into others’ emotional black holes. They rarely get involved in other people’s drama because they know that isn’t their burden to take on.

Sure, they’ll still be a listening ear for those close to them, and they’d help out in an emergency, but they have neither the time nor the patience to carry others who refuse to walk on their own.

Furthermore, they encourage others close to them to sort themselves out, and might even offer to help them if and when they get to that point.


11. They don’t bite off more than they can chew.

This means that they don’t try to do too many things simultaneously, as they know that will spread their energy around too thinly. Instead, they’ll choose one or two things that they know they can do thoroughly (and well) rather than a dozen things they won’t be able to focus on properly.

These pursuits will often be different, but complementary. For instance, they might choose both a physical and an intellectual challenge that they can divide their time between. They might do an hour of exercise in the morning or afternoon, and then spend an hour in the evening with the aforementioned language learning, or studying a topic that fascinates them. If they did two or three physical things a day, they’d be physically drained. The same goes for too much mental stimulation: they’d get burned out and wouldn’t be able to concentrate on anything.


12. They don’t quit.

Disciplined people know that everyone can suffer setbacks, but those setbacks aren’t an excuse to give up. Much like finding a way around unexpected obstacles, they’ll regroup and either try again or find another way to stick to their routine or meet their goal.

Depending on the setback or obstacle they come across, this might require shifting the goalpost or even changing direction entirely. The key here is that they don’t give up and simply lie on the floor in a puddle of despondency. They work with what they have available to them that day—be it energy, resources, able-bodiedness, or equipment—and carry on.

*


If you’re aiming for more self-discipline in your life, you may benefit from incorporating some of these habits and approaches. They won’t all work for everyone, and as mentioned, different people will approach time management in different ways.

The key is to find the combination of methods that works best for you, and then to be consistent with them.

Want to be more disciplined but are struggling to do it by yourself?

We really recommend you speak to a therapist to get where you want to be. Why? Because they are trained to help people in situations like yours. They can help you to identify the reasons for your lack of discipline and provide tailored advice to get you through those mental blocks.


Sumber :

https://www.aconsciousrethink.com/21253/things-disciplined-people-do/?c=ACR&fbclid=IwAR1YzrTvElGycDqbrQIvfNLC-zV-R6K5s9xOs6zefwqRzIgG57613r1m9Xw

https://www.facebook.com/100067186280564/posts/pfbid0pe1zpiasUsb1kg6vHYrrDM51HazZRgoqNZnYJGYEvadsWmojKBKvax4ZaEkyhrSNl/?sfnsn=wiwspwa

Monday, March 27, 2023

VO2MAX

Apa itu VO2MAX dalam lari?


VO2MAX adalah istilah yang digunakan untuk mengukur kapasitas maksimal paru-paru, jantung, dan sistem sirkulasi tubuh seseorang dalam menggunakan oksigen saat melakukan aktivitas fisik tertentu. 

Dalam konteks lari, VO2MAX mengacu pada jumlah maksimum oksigen yang dapat digunakan oleh tubuh Anda saat Anda berlari pada intensitas maksimum.

VO2MAX sering diukur dalam satuan milliliter oksigen per kilogram berat badan per menit (ml/kg/menit). Semakin tinggi nilai VO2MAX seseorang, semakin efektif tubuhnya dalam menggunakan oksigen untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk berlari. 

Oleh karena itu, VO2MAX sering dianggap sebagai indikator penting dalam menentukan kemampuan aerobik seseorang, dan umumnya dianggap sebagai salah satu faktor terpenting dalam menentukan kinerja lari jarak jauh.

Sunday, January 8, 2023

Manfaat Joging 10 Menit

Joging 10 Menit Per Hari, Ini 4 Manfaat yang Bisa Didapatkan

Joging merupakan bentuk latihan menyenangkan untuk meningkatkan kebugaran. Ada banyak manfaat luar biasa dari joging hanya 10 menit per hari. Olahraga ini bisa dilakukan di sela-sela kesibukan, baik sedang liburan, kerja di kantor, atau sibuk dengan anak-anak di rumah. 

Sebuah penelitian yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine mengungkapkan bahwa berolahraga hanya 10 menit sehari sebenarnya dapat memperpanjang hidup. Menurut Mike Bohl, pelatih pribadi bersertifikat, keuntungan lain adalah berlari bisa disesuaikan kebiasaan seseorang sehingga mudah dilakukan. 

"Meskipun ada orang yang mendorong batas-batas lari, seperti mereka yang berpartisipasi dalam maraton, ada juga manfaat lari pendek, seperti joging hanya 10 menit per hari."


1. Membakar kalori dan menurunkan berat badan

Joging adalah bentuk kardio, yang merupakan baik untuk mencapai tujuan penurunan berat badan. "Tergantung pada kecepatan dan berat badan, Anda dapat membakar sekitar 150 kalori dari joging selama 10 menit," kata Bohl.


2. Meningkatkan kekuatan otot dan kepadatan tulang

Joging dalam rutinitas kebugaran akan memperkuat otot kaki, melatih otot inti, dan meningkatkan kepadatan tulang. Seiring bertambahnya usia, ini semua sangat penting dalam hal fungsionalitas, menjaga keseimbangan, dan mengurangi risiko jatuh.


3. Meningkatkan kesehatan mental

Joging sederhana selama 10 menit setiap hari adalah penguat suasana hati dan memberikan manfaat kesehatan mental. Penelitian membuktikan bahwa melakukan aktivitas fisik seperti joging dapat meningkatkan aliran darah ke otak. "[Itu] dapat menghasilkan peningkatan fungsi eksekutif. Fungsi eksekutif mencakup hal-hal seperti pengambilan keputusan dan pengendalian diri," kata Bohl.


4. Meningkatkan kesehatan jantung

Saat joging, lama-kelamaan kekuatan jantung akan meningkat, begitu juga efisiensi pengiriman oksigen ke jaringan di tubuh. "Ini juga membantu mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (dan penyakit lain juga, seperti kanker tertentu)," kata Bohl.


Sumber :

https://cantik.tempo.co/read/1676980/joging-10-menit-per-hari-ini-4-manfaat-yang-bisa-didapatkan?utm_source=Twitter&utm_medium=dlvr.it

Monday, December 19, 2022

Metode Lari Berjalan

Jangan Pernah Menghindari Metode Lari Berjalan

Banyak pelari baru tidak merasa bahwa pelari sejati menghormati mereka jika mereka tidak berlari sepanjang jarak. Namun, jika diterapkan dengan benar, lari dan berjalan bergantian adalah metode pelatihan efektif yang dapat membantu Anda meningkatkan kebugaran lebih cepat, dengan kemungkinan cedera yang lebih kecil.

Bahkan pelari yang lebih mahir dapat mengambil manfaat dari istirahat berjalan untuk pulih dari latihan keras dan kembali dari cedera dengan kemungkinan kambuh yang lebih kecil. Sebagai pelari baru atau berpengalaman, Anda tidak perlu malu menggunakan metode lari-jalan.


Keuntungan Bagi Pelari Baru

Untuk pelari pemula, metode run-walk memungkinkan Anda untuk berolahraga lebih lama setiap sesi. Ini meningkatkan kemampuan aerobik Anda lebih cepat, membakar lebih banyak kalori, dan mengurangi risiko cedera. 

Kebanyakan pelari pemula berjuang untuk berlari lebih dari 1 hingga 3 mil sekaligus paling banyak. Dengan demikian, waktu yang mereka habiskan untuk berlari biasanya hanya 15–30 menit per sesi. Dari penelitian, bagaimanapun, kita tahu bahwa puncak perkembangan aerobik antara 30-90 menit latihan. 

Oleh karena itu, metode pelatihan apa pun yang dapat diterapkan pemula untuk meningkatkan waktu latihan mereka di tahap awal pelatihan mereka akan membantu mereka berkembang lebih cepat.

Menguraikan latihan lari menjadi sesi lari-jalan memberi pelari baru kemampuan untuk memulihkan pernapasan mereka dan mengistirahatkan otot-otot mereka. Ini dapat membantu mereka memperpanjang sesi latihan mereka lebih dari 30 menit, sekaligus membuatnya lebih mudah bagi tubuh. 

Ini tidak hanya membantu meningkatkan kebugaran, tetapi juga mengurangi kemungkinan cedera karena mereka tidak menekankan sistem struktural di luar kemampuannya, dan orang cenderung berlari lebih efisien bila tidak lelah dan berjalan dengan kecepatan yang nyaman.

Lebih lanjut, penelitian menunjukkan bahwa hanya ada sedikit perbedaan antara jumlah kalori yang terbakar saat berlari santai dan jumlah kalori yang terbakar saat berjalan cepat. Ketika Anda mempertimbangkan fakta bahwa metode lari-jalan memungkinkan pelari hampir menggandakan atau tiga kali lipat waktu yang mereka habiskan untuk berolahraga, pelari baru dapat membakar lebih banyak kalori daripada yang mereka lakukan dengan berlari sendiri. 

Untuk lari-jalan, cukup lari saja selama terasa nyaman, lalu berjalan sebentar sampai Anda siap untuk berlari lagi. Atau Anda dapat menggunakan rasio waktu seperti 2 menit berlari, 1 menit berjalan untuk menjaga diri Anda tetap jujur. Tingkatkan waktu berlari secara bertahap saat Anda merasa nyaman dan dapat melakukannya dengan lancar.


Mengapa Transisi Jauh?

Akhirnya, pelari pemula akan sampai pada titik di mana mereka tidak lagi membutuhkan istirahat berjalan untuk memperpanjang lari mereka melebihi batas 30 hingga 45 menit. Ketika ini terjadi, biasanya lebih baik bagi perkembangan kebugaran untuk berlari sepanjang jalan karena berlari menekankan sistem aerobik ke tingkat yang lebih besar. 

Selain itu, saat pelari menjadi lebih berpengalaman, mereka cenderung mengembangkan target waktu balapan tertentu, seperti melanggar 30 menit untuk 5K. Semakin bugar Anda dan semakin tinggi Anda menetapkan tujuan, semakin sulit Anda perlu berlatih untuk mencapainya. Mencapai tujuan waktu yang lebih cepat umumnya akan membutuhkan lari untuk seluruh jarak balapan. Karena itu, mempersiapkan ini selama pelatihan adalah penting.


Cara Transisi

Transisi dari run-walk cukup sederhana. Perlahan-lahan tingkatkan rasio lari untuk berjalan Anda setiap minggu sambil menjaga total waktu berolahraga tetap sama. Misalnya, jika Anda merasa nyaman berlari-jalan dengan rasio 6 banding 4 (6 menit berlari, 4 menit berjalan kaki), Anda dapat beralih ke 7 banding 3 (7 menit berlari, 3 menit berjalan kaki). 

Setelah ini terasa nyaman, Anda dapat meningkatkan menjadi 8-ke-2 atau 8-ke-3, mana saja yang terasa lebih nyaman. Setelah Anda merasa nyaman dengan rasio lari 8 hingga 9 menit dan 1 hingga 2 menit berjalan kaki, langkah selanjutnya adalah membagi lari Anda menjadi segmen lari-jalan yang lebih besar, seperti lari 20 menit, jalan kaki 2 menit. 

Ini adalah langkah transisi untuk mencegah cedera agar Anda tidak langsung beralih dari lari-jalan ke lari 60 menit. Saya juga merekomendasikan untuk mempertahankan satu lari lebih lama di jalan-jalan selama tiga hingga empat minggu saat Anda beralih ke lari saja. Ini akan memungkinkan Anda untuk meningkatkan jarak dan toleransi jangka panjang Anda tanpa memberi tekanan tambahan pada sistem struktural Anda seperti otot, ligamen, tendon, dan tulang.


Kapan Tetap Menggunakan Istirahat Berjalan

Banyak pelari yang telah beralih ke lari mantap terlalu keras kepala atau bangga melihat nilai dalam metode lari-jalan pada waktu-waktu tertentu dalam latihan mereka. Namun, bila digunakan secara efektif, ini bisa menjadi cara cerdas untuk meningkatkan pemulihan dan mencegah cedera.


Jalankan Pemulihan

Saya telah menemukan metode lari-jalan sangat membantu dalam mengurangi rasa sakit dan potensi cedera setelah latihan keras. Kebanyakan pelari adalah pemburu jarak tempuh, bahkan ketika kita sangat menyadari bahwa tujuan dari lari pemulihan adalah untuk memfasilitasi pemulihan. 

Dengan keras kepala, sebagian besar pelari akan melanjutkan jarak yang dijadwalkan untuk hari itu, dan mencoba mencapai kecepatan yang terhormat, terlepas dari seberapa lelahnya mereka. Saya tahu saya merasa sangat terpukul selama hari pemulihan namun tidak mundur dari jarak atau kecepatannya. 

Menerapkan lari-jalan, bahkan jika itu sesederhana istirahat 1 menit setiap 10-15 menit, dapat secara dramatis mengurangi tekanan pada sistem struktural Anda dan membantu menjaga pemulihan berjalan secara nyata. Ini mungkin menjadi pukulan bagi ego bagi sebagian orang, tetapi saya akan menukar implementasi lari-jalan yang cerdas dengan lari pemulihan jika itu berarti saya dapat berolahraga lebih keras dan berlomba lebih cepat di jalan.


Pemulihan Cedera

Saya merekomendasikan semua pelari yang kembali dari cedera berat menggunakan metode lari-jalan. Jika Anda dibaringkan selama lebih dari beberapa minggu atau jika cedera sangat mengganggu, metode lari-jalan dapat mencegah cedera ulang dan membantu Anda kembali ke latihan normal lebih cepat. 

Saat kembali dari cedera yang sulit atau terus-menerus, area yang cedera cenderung sensitif dan rentan terhadap cedera ulang. Selain itu, Anda mungkin akan mengimbangi kelemahan atau rasa sakit dengan pincang atau menembakkan kelompok otot lain untuk mengurangi tekanan pada area yang cedera sering kali tanpa disadari. 

Anda berpotensi menekan area lain dari tubuh Anda untuk mengimbangi dan serangkaian cedera. Menerapkan lari-jalan akan membantu menghilangkan tekanan dari sistem struktural Anda sekaligus memungkinkan Anda untuk keluar dan berlari untuk waktu total yang lebih lama sambil beralih kembali ke pelatihan normal. 

Seperti halnya metode pelatihan khusus lainnya, belajarlah untuk berpikir kreatif daripada mendengarkan mereka yang hanya melihat satu cara untuk mencapai suatu tujuan. Jika digunakan dengan benar, metode lari-jalan dapat menjadi alat yang penting di tangan pelari pemula dan berpengalaman.


Sumber :

https://www.finalmileracemanagement.com/jangan-pernah-menghindari-metode-lari-berjalan/

Saturday, December 10, 2022

Tips Persiapan Memulai Maraton

Dokter beri tips serta persiapan memulai maraton #infoMenarik

Senin, 19 Sep 2022 | 21:34 WIB

Dokter spesialis kedokteran olahraga Pelatnas Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dr. Grace Joselini Corlesa, MMRS, Sp.KO memberikan sejumlah tips serta persiapan bagi orang yang akan memulai maraton supaya fisik serta mentalnya siap.

Dokter Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) yang juga berpraktik diSport Medicine Injury Recovery Center RS Pondok Indah – Bintaro Jaya itu melalui keterangan tertulisnya, Senin, menyebutkan salah satu tips yakni melakukan pemeriksaan medis terutama kondisi kesehatan jantung.

“Terlepas dari berapa lama Anda telah berolahraga, ada beberapa tanda peringatan serta faktor risiko tertentu yang harus dievaluasi sebelum memulai program latihan baru, terutama yang seintensif pelatihan maraton,” catat dia.

Grace menyarankan calon peserta lari segera berkonsultasi ke dokter apabila sebelum berlatih pernah mengalami gejala nyeri dada, sesak napas, atau kelelahan berlebihan saat berolahraga serta memiliki tekanan darah tinggi.

Kemudian, tiba-tiba pingsan atau pusing hingga kehilangan keseimbangan, memiliki riwayat murmur jantung sebelumnya yaitu kelainan pada jantung yang disebabkan pembukaan katup yang tidak sempurna, sehingga aliran darah dipaksa melewati bukaan sempit yang mengakibatkan suara bising/tiupan. Suara ini dapat dirasakan ketika dokter memeriksa melalui stetoskop.

Orang juga perlu berkonsultasi ke dokter apabila memiliki kerabat tingkat pertama (ibu, ayah, saudara kandung) yang meninggal atau cacat disebabkan penyakit jantung sebelum usia 50 tahun, riwayat keluarga memiliki penyakit jantung serta riwayat pribadi memiliki penyakit arteri koroner (berusia di atas 35 tahun).

Setelah memeriksa kesehatan, Grace menyarankan calon peserta lari membuat perencanaan latihan maraton. Menurut dia, memiliki latihan yang terencana akan membantu Anda secara fisik serta mental untuk mengikuti maraton.

“Empat sampai lima bulan sebelum maraton, buatlah rencana latihan yang memadukan lari jarak pendek di hari kerja serta lari jarak jauh secara perlahan di hari libur,” catat dia.

Pelari pemula dapat memulai di hari libur sejauh 5-8 kilometer. Sementara pelari yang sudah tingkat lanjut dapat memulai 9-12 kilometer yang dikombinasikan dengan latihan kecepatan.

Sebagian besar rencana latihan mencakup empat sampai lima sesi latihan setiap minggunya, termasuk satu latihan lari di akhir pekan dengan jarak yang lebih jauh, dimulai sekitar 9 kilometer, kemudian ditingkatkan secara bertahap hingga 32 kilometer dalam beberapa minggu sebelum maraton.

Latihan penguatan otot-otot inti (core) serta latihan keseimbangan juga merupakan salah satu menu dari latihan. Latihan penguatan serta keseimbangan dapat membantu Anda mencegah cedera terjadi ketika berlari.

Grace lalu mengingatkan pentingnya mengatur kecepatan langkah (pace). Salah satu tantangan dalam maraton ialah menyesuaikan seberapa jauh serta cepat seseorang harus berlari.

Berlari dengan jarak yang lebih jauh dalam seminggu lebih pada mempersiapkan diri untuk berlari maraton, tetapi juga meningkatkan risiko cedera. Jika ini merupakan persiapan perdana maraton, maka disarankan untuk memulai dengan jarak mingguan yang lebih pendek.

Satu hal yang perlu orang perhatikan yakni menggunakan sepatu yang sesuai. Seseorang dapat minta bantuan dari pegawai toko sepatu olahraga untuk mendapatkan sepatu yang nyaman serta sesuai dengan bentuk kaki, pola jalan, serta bentuk tubuhnya.

Pelari yang memiliki bentuk telapak kaki high arch membutuhkan jenis sepatu neutral-stability. Pelari yang memiliki bentuk telapak kaki medium arch membutuhkan jenis sepatu stability.

Sementara pelari yang memiliki bentuk telapak kaki low arch membutuhkan jenis sepatu high-stability atau motion control.

Pelari yang memiliki bobot tubuh yang lebih besar membutuhkan sepatu lari dengan bantalan ekstra. Hal ini untuk mengurangi pembebanan berlebih pada tulang serta sendi

“Gunakan sepatu sebagai awalan untuk lari dengan jarak yang lebih pendek. Idealnya sepatu diganti setelah 400 kilometer atau sekitar 3-6 bulan,” saran Grace.

Dia kemudian mengingatkan pentingnya istirahat sebagai bagian dari program latihan. Menurut dia, pastikan setidaknya ada satu hari dalam seminggu untuk beristirahat.

Istirahat merupakan faktor penting dalam pemulihan setelah latihan. Tidur ialah salah satu bentuk istirahat, yang pada orang dewasa umumnya dibutuhkan sekitar 6-8 jam, serta 10 jam pada atlet.

Penelitian menyatakan tidur kurang dari 7 jam di malam hari dapat meningkatkan risiko cedera hingga 2 kali lipat.

Terakhir, pastikan asupan cairan serta nutrisi terpenuhi dengan baik. Menurut Grace, asupan cairan idealnya didapatkan sebelum, saat, serta sesudah berlari.

Saat berlari dengan jarak pendek serta kurang dari 1 jam, air putih biasa sudah cukup. tetapi, apabila berlari melebihi 1 jam serta jarak yang cukup jauh, maka dibutuhkan minuman yang mengandung elektrolit. Ini untuk menggantikan cairan serta elektrolit yang terbuang saat berkeringat, terutama saat cuaca panas serta lembap.

Energy gels/bars dapat memberikan tenaga ekstra saat seseorang berlari dengan jarak di atas 10 kilometer. Selain itu, sebaiknya perhatikan juga makanan setelah latihan lari untuk membantu mengisi kembali simpanan energi di dalam tubuh, seperti mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks (roti, nasi, pasta, buah-buahan, serta sayuran).


Sumber :

https://portalsidoarjo.com/2022/09/19/dokter-beri-tips-serta-persiapan-memulai-maraton-infomenarik.html